Liturgi Minggu, 11 Agustus 2024
Minggu, 11 Agustus 2024
Ayat Penuntun
- Hukum Kasih Ulangan 6: 5
- Berita Anugerah Mikha 4:3
- Litani Mazmur Mazmur 130
- Persembahan Yunus 2:9
Pelayan Firman
Cut Meutia
06.00 WIB
Pdt. Johan Kristantara, M.Th.
09.00 WIB
Pdt. Ricardo Sitorus
17.00 WIB
Pdt. Daud Chevi Naibaho
Cikarang
08.00 WIB
Pdt. Daud Chevi Naibaho
Karawang
07.30 WIB
Pdt. Kukuh Purwidhianto M.Fil.
File Warta
Live Streaming
Cut Meutia
Cikarang
Karawang
Video terbaru dari channel YouTube masing-masing lokasi.
Diperbarui setiap 30 menit.
Ayat Penuntun
- Hukum Kasih Ulangan 6: 5
- Berita Anugerah Mikha 4:3
- Litani Mazmur Mazmur 130
- Persembahan Yunus 2:9
Nyanyian (9)
Arah Pewartaan
Bagaimana kita akan memahami kalimat Yesus pada ayat 41-51? Atau dengan kata lain, bagaimana bentuk konkret dari perkataan Yesus pada ayat 48-51?
Sederhananya mungkin seperti ini, lihatlah bagaimana Yesus menjadi roti hidup dengan memberi makan bagi kehidupan orang-orang:
- Dia hadir. Dia mendengarkan. Dia mencintai.
- Dia menyambut dan terhubung dengan orang-orang.
- Dia menceritakan kisah tentang kehidupan dan membantu orang menemukan makna.
- Dia menawarkan belas kasihan dan pengampunan.
- Dia berbelas kasih.
- Dia menyentuh tempat-tempat yang terluka dan hancur dalam kehidupan orang-orang.
- Dia membagikan visi untuk kehidupan baru dan cara berbeda untuk berada di dunia.
- Dia mengingatkan orang untuk tidak takut, untuk tidak membiarkan hati mereka gelisah.
- Dia memberi harapan, dan damai sejahtera yang tidak bisa diberikan dunia.
- Dia mengingatkan kita bahwa kita adalah satu roti, satu tubuh, dan kehidupan tetangga kita sama pentingnya dengan kehidupan kita sendiri.
- Dia adalah Firman baik yang kita rindukan dan butuhkan untuk didengar.
Dalam 2 Samuel 18:5-9, 15, 31-33, kita menyaksikan dampak yang memilukan dari pemberontakan Absalom melawan ayahnya, Raja Daud. Meskipun Absalom dikhianati, Daud, sebagai seorang pemimpin, ia memerintahkan para komandannya untuk memperlakukan Absalom dengan lembut, menunjukkan belas kasihan bahkan saat menghadapi pengkhianatan. Berdasarkan 2 bacaan tadi, pertanyaan besar yang perlu kita jawab adalah, Γ’β¬ΕBagaimana kita menjadi roti yang hidup dalam keseharian?Γ’β¬Β Sebagai individu dan komunitas, kita bisa:
- Hadir dan Mendengarkan : Seperti Yesus yang hadir dan mendengarkan orang-orang, kita juga bisa hadir dan mendengarkan kebutuhan dan keluhan sesama warga negara kita.
- Mencintai dan Menyambut : Menyambut dengan cinta dan kasih sayang, tanpa diskriminasi, membawa kesatuan dan kedamaian.
- Memberi Harapan dan Damai : Dalam situasi sulit, kita bisa memberi harapan dan damai kepada mereka yang putus asa.
Pada bulan kebangsaan ini, marilah kita merenungkan bagaimana kita bisa menjadi roti hidup bagi bangsa kita. Dengan memakan roti hidup, kita tidak hanya memuaskan jiwa kita sendiri tetapi juga siap untuk memberi makan jiwa orang lain.
Sederhananya mungkin seperti ini, lihatlah bagaimana Yesus menjadi roti hidup dengan memberi makan bagi kehidupan orang-orang:
- Dia hadir. Dia mendengarkan. Dia mencintai.
- Dia menyambut dan terhubung dengan orang-orang.
- Dia menceritakan kisah tentang kehidupan dan membantu orang menemukan makna.
- Dia menawarkan belas kasihan dan pengampunan.
- Dia berbelas kasih.
- Dia menyentuh tempat-tempat yang terluka dan hancur dalam kehidupan orang-orang.
- Dia membagikan visi untuk kehidupan baru dan cara berbeda untuk berada di dunia.
- Dia mengingatkan orang untuk tidak takut, untuk tidak membiarkan hati mereka gelisah.
- Dia memberi harapan, dan damai sejahtera yang tidak bisa diberikan dunia.
- Dia mengingatkan kita bahwa kita adalah satu roti, satu tubuh, dan kehidupan tetangga kita sama pentingnya dengan kehidupan kita sendiri.
- Dia adalah Firman baik yang kita rindukan dan butuhkan untuk didengar.
Dalam 2 Samuel 18:5-9, 15, 31-33, kita menyaksikan dampak yang memilukan dari pemberontakan Absalom melawan ayahnya, Raja Daud. Meskipun Absalom dikhianati, Daud, sebagai seorang pemimpin, ia memerintahkan para komandannya untuk memperlakukan Absalom dengan lembut, menunjukkan belas kasihan bahkan saat menghadapi pengkhianatan. Berdasarkan 2 bacaan tadi, pertanyaan besar yang perlu kita jawab adalah, Γ’β¬ΕBagaimana kita menjadi roti yang hidup dalam keseharian?Γ’β¬Β Sebagai individu dan komunitas, kita bisa:
- Hadir dan Mendengarkan : Seperti Yesus yang hadir dan mendengarkan orang-orang, kita juga bisa hadir dan mendengarkan kebutuhan dan keluhan sesama warga negara kita.
- Mencintai dan Menyambut : Menyambut dengan cinta dan kasih sayang, tanpa diskriminasi, membawa kesatuan dan kedamaian.
- Memberi Harapan dan Damai : Dalam situasi sulit, kita bisa memberi harapan dan damai kepada mereka yang putus asa.
Pada bulan kebangsaan ini, marilah kita merenungkan bagaimana kita bisa menjadi roti hidup bagi bangsa kita. Dengan memakan roti hidup, kita tidak hanya memuaskan jiwa kita sendiri tetapi juga siap untuk memberi makan jiwa orang lain.
Pelayan Firman
Cut Meutia
06.00 WIB
Pdt. Johan Kristantara, M.Th.
09.00 WIB
Pdt. Ricardo Sitorus
17.00 WIB
Pdt. Daud Chevi Naibaho
Cikarang
08.00 WIB
Pdt. Daud Chevi Naibaho
Karawang
07.30 WIB
Pdt. Kukuh Purwidhianto M.Fil.
File Warta
Live Streaming
Cut Meutia
Cikarang
Karawang
Video terbaru dari channel YouTube masing-masing lokasi.
Diperbarui setiap 30 menit.