KJ
Allah Dimuliakanlah
Gelobt sei Gott im hochsten Thron
197
Nomor
Kode
KJ 197
Buku
Kidung Jemaat
Tematik
Kebangkitan Yesus dan Masa Paskah
Metronom
0
Cross Ref.
KK 248
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
6 bait
1
Allah dimuliakanlah bersama Putra TunggalNya
yang menebus manusia. Haleluya, Haleluya, Haleluya!
2
Hari Ketiga yang cerah fajar menghalaukan duka:
lihatlah kubur terbuka! Haleluya, Haleluya, Haleluya!
3
Kata malaikat: "Marilah, jangan Yang Hidup kaucari
di dunia orang mati!" Haleluya, Haleluya, Haleluya!
4
"Ia tlah bangkit, lihatlah tempat yang Ia tinggalkan
maut pun Ia kalahkan!" Haleluya, Haleluya, Haleluya!
5
Kami berdoa padaMu, Tuhan yang bangkit dan jaya,
buatlah kami percaya! Haleluya, Haleluya, Haleluya!
6
Ya Juruslamat, Penebus, namaMu kami agungkan:
sampai kekal Kaulah Tuhan! Haleluya, Haleluya, Haleluya!
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
6 slide
Kisah di Balik Lagu
Kisah di balik lagu **"Gelobt sei Gott im hΓΆchsten Thron"** (Bahasa Indonesia: *Allah Dimuliakanlah*) adalah perjalanan sejarah yang melibatkan dua tokoh besar dari dua tradisi Kristen yang berbeda, yang kemudian disatukan dalam sebuah komposisi yang sangat ikonik, khususnya untuk perayaan Paskah.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Akar Kata: Michael Weisse (1531)
Lirik asli lagu ini ditulis oleh **Michael Weisse** (c. 1480β1534). Weisse adalah seorang mantan biarawan yang kemudian bergabung dengan *Unitas Fratrum* (Gereja Persaudaraan Moravia atau *Bohemian Brethren*).
* **Konteks Sejarah:** Pada abad ke-16, kelompok Moravia sangat mementingkan musik sebagai alat pengajaran iman. Weisse menerbitkan buku nyanyian berjudul *Ein New Gesengbuchlen* pada tahun 1531 di Jerman.
* **Makna Lirik:** Lirik asli yang ditulis Weisse berjudul *"Lob sei dem herren, dem hΓΆchsten Gott"*. Lagu ini diciptakan sebagai nyanyian sukacita Paskah, yang merayakan kebangkitan Kristus dan kemenangan-Nya atas maut. Liriknya menekankan bahwa karena Kristus telah bangkit, maka kemuliaan mutlak milik Allah.
### 2. Akar Musik: Melchior Vulpius (1609)
Melodi yang kita kenal sekarangβyang sangat megah dan bersemangatβdikaitkan dengan **Melchior Vulpius** (c. 1570β1615).
* **Siapa Vulpius?** Ia adalah seorang komponis Jerman dari era Renaisans akhir dan Barok awal. Ia dikenal sebagai salah satu komposer musik gerejawi Lutheran yang paling berpengaruh pada zamannya.
* **Asal-usul Melodi:** Melodi ini diterbitkan dalam koleksinya yang berjudul *Ein schΓΆn geistlich Gesangbuch* pada tahun 1609. Vulpius menggubah musik ini untuk teks tersebut karena ia ingin menciptakan iringan yang mampu membangkitkan suasana kemenangan.
* **Karakter Musik:** Musik Vulpius menggunakan gaya *cantional* (melodi utama di bagian soprano dengan iringan akor yang kokoh), yang membuat lagu ini terdengar agung, mudah diingat, dan sangat cocok dinyanyikan oleh jemaat dalam jumlah besar (koral).
### 3. Mengapa Lagu Ini Begitu Penting?
Ada alasan mengapa lagu ini bertahan selama lebih dari 400 tahun dan diterjemahkan ke banyak bahasa, termasuk ke dalam bahasa Indonesia:
1. **Dinamika Kemenangan:** Musik Vulpius memiliki "loncatan" melodi yang optimis. Bagian refreinnya (yang sering menyertakan seruan *"Alleluia"*) dirancang untuk mengekspresikan ledakan sukacita Paskah.
2. **Transisi Zaman:** Lagu ini menjadi jembatan antara semangat reformasi gereja (melalui Weisse) dan kecemerlangan musikalitas gerejawi Jerman (melalui Vulpius).
3. **Penggunaan Liturgis:** Di banyak gereja di seluruh dunia (terutama gereja-gereja Lutheran, Katolik, dan beberapa denominasi Protestan lainnya), lagu ini menjadi "lagu wajib" pada Hari Minggu Paskah karena narasi liriknya yang tidak hanya menceritakan kebangkitan, tetapi juga mengundang seluruh umat untuk menyembah Allah di tempat yang mahatinggi.
### Ringkasan dalam Bahasa Indonesia
Dalam konteks Indonesia, lagu **"Allah Dimuliakanlah"** sering dinyanyikan dengan semangat yang menggebu-gebu. Kisah dibalik lagu ini adalah kisah tentang **"Sukacita yang Terstruktur"**:
* **Weisse** memberikan fondasi teologis: *Kristus bangkit, maka Allah dimuliakan.*
* **Vulpius** memberikan "kendaraan" emosional: *Musik yang megah untuk membawa pujian itu naik ke hadapan takhta Allah.*
Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi salah satu himne Paskah yang paling dikenal di dunia, mewakili suara umat Kristen yang merayakan bahwa "maut telah dikalahkan oleh hidup".
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Akar Kata: Michael Weisse (1531)
Lirik asli lagu ini ditulis oleh **Michael Weisse** (c. 1480β1534). Weisse adalah seorang mantan biarawan yang kemudian bergabung dengan *Unitas Fratrum* (Gereja Persaudaraan Moravia atau *Bohemian Brethren*).
* **Konteks Sejarah:** Pada abad ke-16, kelompok Moravia sangat mementingkan musik sebagai alat pengajaran iman. Weisse menerbitkan buku nyanyian berjudul *Ein New Gesengbuchlen* pada tahun 1531 di Jerman.
* **Makna Lirik:** Lirik asli yang ditulis Weisse berjudul *"Lob sei dem herren, dem hΓΆchsten Gott"*. Lagu ini diciptakan sebagai nyanyian sukacita Paskah, yang merayakan kebangkitan Kristus dan kemenangan-Nya atas maut. Liriknya menekankan bahwa karena Kristus telah bangkit, maka kemuliaan mutlak milik Allah.
### 2. Akar Musik: Melchior Vulpius (1609)
Melodi yang kita kenal sekarangβyang sangat megah dan bersemangatβdikaitkan dengan **Melchior Vulpius** (c. 1570β1615).
* **Siapa Vulpius?** Ia adalah seorang komponis Jerman dari era Renaisans akhir dan Barok awal. Ia dikenal sebagai salah satu komposer musik gerejawi Lutheran yang paling berpengaruh pada zamannya.
* **Asal-usul Melodi:** Melodi ini diterbitkan dalam koleksinya yang berjudul *Ein schΓΆn geistlich Gesangbuch* pada tahun 1609. Vulpius menggubah musik ini untuk teks tersebut karena ia ingin menciptakan iringan yang mampu membangkitkan suasana kemenangan.
* **Karakter Musik:** Musik Vulpius menggunakan gaya *cantional* (melodi utama di bagian soprano dengan iringan akor yang kokoh), yang membuat lagu ini terdengar agung, mudah diingat, dan sangat cocok dinyanyikan oleh jemaat dalam jumlah besar (koral).
### 3. Mengapa Lagu Ini Begitu Penting?
Ada alasan mengapa lagu ini bertahan selama lebih dari 400 tahun dan diterjemahkan ke banyak bahasa, termasuk ke dalam bahasa Indonesia:
1. **Dinamika Kemenangan:** Musik Vulpius memiliki "loncatan" melodi yang optimis. Bagian refreinnya (yang sering menyertakan seruan *"Alleluia"*) dirancang untuk mengekspresikan ledakan sukacita Paskah.
2. **Transisi Zaman:** Lagu ini menjadi jembatan antara semangat reformasi gereja (melalui Weisse) dan kecemerlangan musikalitas gerejawi Jerman (melalui Vulpius).
3. **Penggunaan Liturgis:** Di banyak gereja di seluruh dunia (terutama gereja-gereja Lutheran, Katolik, dan beberapa denominasi Protestan lainnya), lagu ini menjadi "lagu wajib" pada Hari Minggu Paskah karena narasi liriknya yang tidak hanya menceritakan kebangkitan, tetapi juga mengundang seluruh umat untuk menyembah Allah di tempat yang mahatinggi.
### Ringkasan dalam Bahasa Indonesia
Dalam konteks Indonesia, lagu **"Allah Dimuliakanlah"** sering dinyanyikan dengan semangat yang menggebu-gebu. Kisah dibalik lagu ini adalah kisah tentang **"Sukacita yang Terstruktur"**:
* **Weisse** memberikan fondasi teologis: *Kristus bangkit, maka Allah dimuliakan.*
* **Vulpius** memberikan "kendaraan" emosional: *Musik yang megah untuk membawa pujian itu naik ke hadapan takhta Allah.*
Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi salah satu himne Paskah yang paling dikenal di dunia, mewakili suara umat Kristen yang merayakan bahwa "maut telah dikalahkan oleh hidup".
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
KK 248
248
Allah Dimuliakanlah
187
Yesus Bangkit! Nyanyilah
188
Kristus Bangkit! Soraklah
189
Yerusalem, Bersoraklah
190
Dari Kubur yang Kelam
191
Hari Minggu, Hari Kebangkitan
192
Meski Dijaga KuburNya
193
Yesus Bangkit, Haleluya!
194
Dikau, Yang Bangkit, Mahamulia
195
Di Makam yang Gelap
196
Kristus Sudah Bangkit
198
Kini Sang Putra T'lah Menang
199
Hai Umat Tuhan, Nyanyilah
200
Mari Bersukacita
201
Kini Berakhirlah Perang
202
Maut Sudah Menyerah
203
Haleluya, Bernyanyilah
204
Sang Kristus Bangkit, Nyanyilah
205
Gembira dan Bernyanyilah
206
Kibarkan Panji Rajamu
207
'Ku Berseru, Hai Dunia
208
Fajar Hidup Merekah
209
Yang Turun ke Kubur
210
Yesus Hidup dan Menang
211
Tuhanku Bangkit! Nyanyilah
212
Tuhanku Bangkit, Pusara Terbuka
213
Hai Bangun, Kau yang Tidur
214
Tuhan Melawat UmatNya
215
Yesus, Kini Kataku
216
Sang Kristus T'lah Bangkit
217
Yesus, Sumber Penghiburan