KKB
Eh Nu Nyara Rek Kamana
Hei, Musafir, Hendak Ke Mana?
104
Nomor
do = C
Nada Dasar
Kode
KKb 104
Buku
Kidung Kabungahan
Tematik
Panyaksen / Kesaksian
Nada Dasar
do = C
Ketukan
3/4 ketuk
Metronom
0
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
1
Hai, musafir, hendak ke mana, berjalan dengan bergegas?
Yang dituju istana Raja, ingin ke tempat senang
Naik turun pegunungan, menempuh hutan dan sungai
Akan ke hadirat Tuhan, Juru Selamat kita
Akan ke hadirat Tuhan, Juru Selamat kita
2
Jalannya pastilah cepat, ada yang kan mencegat
Kami tak takut bahaya, karena punya pedang kuat
Yang memusuhi memang banyak, tapi yang akan menjaga
Tuhan yang tak gegabah, yang jadi benteng umat
Tuhan yang tak gegabah, yang jadi benteng umat
3
Apa anugerah Raja, di negeri yang kudus?
Pakaian yang indah-indah, yang putih dan yang bersih
Berkilauan senantiasa, sebab setiap orang disana
Hatinya dibersihkan, semuanya jadi kudus
Hatinya dibersihkan, semuanya jadi kudus
4
Aku juga ingin sekali, ke Yerusalem baka
Puji syukur, kita berangkat, jangan ditunda-tunda
Nanti dapat kesukaan, kalau masuk Kerjaan
Yang penuh dengan kemulyaan, hidup baka dengan Allah
Yang penuh dengan kemulyaan, hidup baka dengan Allah
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Hai Musafir, Mau Ke Mana?"** (dalam bahasa Inggris berjudul **"Whither, Pilgrims, Are You Going?"**) adalah salah satu himne klasik yang memiliki akar sejarah yang cukup unik karena melibatkan perpaduan antara tradisi sastra Kristen abad ke-19 dan pengaruh musik rakyat (*folk music*).
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Asal-Usul Lirik: Sebuah Dialog Spiritual
Lirik asli lagu ini ditulis oleh **Henry Harbaugh (1817β1867)**, seorang pendeta, penyair, dan teolog asal Amerika dari denominasi *German Reformed Church*.
Lirik aslinya terbit pertama kali pada tahun 1850. Struktur lagu ini menggunakan teknik **"Dialog"**. Ini adalah gaya sastra populer dalam himne abad ke-19 yang menggambarkan percakapan antara seseorang yang sedang berziarah (musafir) dengan orang yang bertanya kepadanya.
* **Pertanyaan:** "Hai musafir, mau ke mana, dengan langkah yang lelah?"
* **Jawaban:** Sang musafir menjawab bahwa ia sedang menuju "tanah yang jauh dan terang," yaitu Kerajaan Surga.
Tema utamanya sangat dipengaruhi oleh karya klasik John Bunyan, *The Pilgrimβs Progress* (Perjalanan Musafir), yang sangat populer di kalangan Kristen Protestan saat itu. Lagu ini menjadi pengingat bagi umat percaya bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan sementara.
### 2. Peran William Batchelder Bradbury
**William Batchelder Bradbury (1816β1868)** adalah sosok yang bertanggung jawab mempopulerkan lagu ini melalui aransemen musiknya. Bradbury adalah musisi dan komposer yang sangat produktif; ia dikenal sebagai bapak musik sekolah Minggu di Amerika.
Bradbury tidak menulis liriknya, tetapi ia menciptakan melodi yang sangat mudah diingat (*catchy*) dan harmonisasi yang sederhana. Pada tahun 1850-an hingga 1860-an, Bradbury menerbitkan banyak buku himne (seperti *The Golden Chain*). Melodi yang ia gubah untuk puisi Harbaugh ini kemudian menjadi standar yang dinyanyikan di gereja-gereja hingga ke seluruh dunia.
### 3. Mengapa Lagu Ini Begitu Populer?
Ada beberapa alasan mengapa lagu ini bertahan lama dan akhirnya diterjemahkan ke banyak bahasa, termasuk Indonesia:
* **Metafora Perjalanan:** Konsep kehidupan sebagai "perjalanan" (*pilgrimage*) sangat universal. Di tengah kesulitan hidup atau perang (seperti suasana Perang Saudara Amerika pada masa hidup Bradbury), lirik tentang tujuan akhir yang damai sangat menghibur.
* **Melodi yang "Folk":** Melodi Bradbury memiliki nuansa *folk song* atau musik rakyat yang kuat. Lagu ini tidak terdengar seperti himne gereja yang kaku atau megah, melainkan seperti nyanyian yang bisa dinyanyikan sambil berjalan, sehingga sangat efektif untuk kelompok paduan suara atau ibadah perkemahan (*camp meeting*).
* **Keintiman:** Fokus lagu ini bukan pada doktrin yang rumit, melainkan pada aspirasi pribadi seseorang untuk sampai ke rumah Tuhan.
### 4. Makna dalam Bahasa Indonesia
Dalam tradisi gereja di Indonesia, lagu ini sering muncul di buku-buku nyanyian jemaat seperti *Kidung Jemaat* atau buku nyanyian gerejawi lainnya. Terjemahannya mempertahankan esensi dialog tersebut:
> *"Hai musafir, mau ke mana, dengan langkah yang lelah?
> Menuju ke surga mulia, rumah Bapa yang baka."*
Penerjemahan ini berhasil menangkap nuansa "kepenatan" duniawi yang dibalas dengan "pengharapan" akan keabadian.
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah kolaborasi antara seorang penyair yang merindukan rumah Tuhan (Harbaugh) dan seorang komposer yang memiliki bakat luar biasa dalam menciptakan melodi yang menjangkau hati rakyat jelata (Bradbury). Lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan "kompas" musikal bagi orang-orang pada abad ke-19 untuk tetap tabah dalam menghadapi kehidupan yang penuh tantangan, dengan mata yang tetap tertuju pada tujuan akhir: Surga.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Asal-Usul Lirik: Sebuah Dialog Spiritual
Lirik asli lagu ini ditulis oleh **Henry Harbaugh (1817β1867)**, seorang pendeta, penyair, dan teolog asal Amerika dari denominasi *German Reformed Church*.
Lirik aslinya terbit pertama kali pada tahun 1850. Struktur lagu ini menggunakan teknik **"Dialog"**. Ini adalah gaya sastra populer dalam himne abad ke-19 yang menggambarkan percakapan antara seseorang yang sedang berziarah (musafir) dengan orang yang bertanya kepadanya.
* **Pertanyaan:** "Hai musafir, mau ke mana, dengan langkah yang lelah?"
* **Jawaban:** Sang musafir menjawab bahwa ia sedang menuju "tanah yang jauh dan terang," yaitu Kerajaan Surga.
Tema utamanya sangat dipengaruhi oleh karya klasik John Bunyan, *The Pilgrimβs Progress* (Perjalanan Musafir), yang sangat populer di kalangan Kristen Protestan saat itu. Lagu ini menjadi pengingat bagi umat percaya bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan sementara.
### 2. Peran William Batchelder Bradbury
**William Batchelder Bradbury (1816β1868)** adalah sosok yang bertanggung jawab mempopulerkan lagu ini melalui aransemen musiknya. Bradbury adalah musisi dan komposer yang sangat produktif; ia dikenal sebagai bapak musik sekolah Minggu di Amerika.
Bradbury tidak menulis liriknya, tetapi ia menciptakan melodi yang sangat mudah diingat (*catchy*) dan harmonisasi yang sederhana. Pada tahun 1850-an hingga 1860-an, Bradbury menerbitkan banyak buku himne (seperti *The Golden Chain*). Melodi yang ia gubah untuk puisi Harbaugh ini kemudian menjadi standar yang dinyanyikan di gereja-gereja hingga ke seluruh dunia.
### 3. Mengapa Lagu Ini Begitu Populer?
Ada beberapa alasan mengapa lagu ini bertahan lama dan akhirnya diterjemahkan ke banyak bahasa, termasuk Indonesia:
* **Metafora Perjalanan:** Konsep kehidupan sebagai "perjalanan" (*pilgrimage*) sangat universal. Di tengah kesulitan hidup atau perang (seperti suasana Perang Saudara Amerika pada masa hidup Bradbury), lirik tentang tujuan akhir yang damai sangat menghibur.
* **Melodi yang "Folk":** Melodi Bradbury memiliki nuansa *folk song* atau musik rakyat yang kuat. Lagu ini tidak terdengar seperti himne gereja yang kaku atau megah, melainkan seperti nyanyian yang bisa dinyanyikan sambil berjalan, sehingga sangat efektif untuk kelompok paduan suara atau ibadah perkemahan (*camp meeting*).
* **Keintiman:** Fokus lagu ini bukan pada doktrin yang rumit, melainkan pada aspirasi pribadi seseorang untuk sampai ke rumah Tuhan.
### 4. Makna dalam Bahasa Indonesia
Dalam tradisi gereja di Indonesia, lagu ini sering muncul di buku-buku nyanyian jemaat seperti *Kidung Jemaat* atau buku nyanyian gerejawi lainnya. Terjemahannya mempertahankan esensi dialog tersebut:
> *"Hai musafir, mau ke mana, dengan langkah yang lelah?
> Menuju ke surga mulia, rumah Bapa yang baka."*
Penerjemahan ini berhasil menangkap nuansa "kepenatan" duniawi yang dibalas dengan "pengharapan" akan keabadian.
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah kolaborasi antara seorang penyair yang merindukan rumah Tuhan (Harbaugh) dan seorang komposer yang memiliki bakat luar biasa dalam menciptakan melodi yang menjangkau hati rakyat jelata (Bradbury). Lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan "kompas" musikal bagi orang-orang pada abad ke-19 untuk tetap tabah dalam menghadapi kehidupan yang penuh tantangan, dengan mata yang tetap tertuju pada tujuan akhir: Surga.
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Tema :
Panyaksen / Kesaksian
81
Di Lebet Gusti Urang Teh Ngahiji
82
Nasehat Daud
83
Nya Dina Iman Abdi Makalangan
84
Pohara Matak Helokna Kawijaksanaan Allah
85
Nu Geus Lungsur Ka Dunya
86
Anu Harepna Ka Pangeran
87
Aya Hiji Gusti Luhur Pangkatna
88
Dina Cangkingan Yesus
89
Di Sawarga, Di Bumi
90
Ka Yesus Nya lindung
91
Lamun Hate Ngandung Susah
92
Sobat Nu Sae Nu Satia
93
Eh, Jalma Sadunya Kabeh
94
Gusti Ngadeg Saban Waktos
95
Hiap Ka Dieu, Ngiring Gusti
96
Jalma Dosa, Anjeun Hayang Leupas
97
Masing Emut Nami Gusti
98
Salamet Nu Malarat Sukma
99
Ulah Geder Balad Leutik
100
Abdi Hayang Anut Yesus
101
Abdi Teu Terang Nu Bakal Kasorang
102
Cara Uncal Hayang Banget
103
Di Sawarga Ku Aheng
105
Hate Geura Jung Ka Luhur
106
Ku Matak Resep Jeung Genah
107
Na Kamana Anjeun Seja Sumalindung
108
Nyengkatkeun Panon Ka Gusti
109
Teu Aya Nami Nu Lian
110
Pangandika
111
Gusti Allah Miasih