NP
Tiada Timur dan Barat
In Christ There Is No East or West
168
Nomor
Kode
NP 168
Buku
Nyanyian Pujian
Tematik
Umat Allah, Sidang Jemaat
Metronom
0
Pencipta Lagu
Alexander R. Reinagle
Pencipta Syair
John Oxenham
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
1
Di dalam kasih Almasih berpadu tiap insan;
Tiada Timur dan Barat, Tiada batasan.
2
Di dalamNya perskutuan erat terciptakan,
Dan yang mengikat umatNya tak lain pelayanan.
3
Suku dan bangsa apapun bersatu dalamNya;
Semua anak Bapaku sungguhlah saudara.
4
Hai umat Allah, marilah bersujud dan sembah;
Bersatu di kaki Kristus selama-lamanya.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Kisah di Balik Lagu
Kisah di balik lagu **"In Christ There Is No East or West"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Tiada Timur dan Barat"*) adalah sebuah perjalanan panjang yang menggabungkan perenungan rohani mendalam dengan situasi dunia yang penuh perpecahan.
Berikut adalah rincian detail mengenai asal-usul, penulis, dan makna di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis Lirik: John Oxenham
Lirik lagu ini ditulis oleh **John Oxenham** (nama pena dari William Arthur Dunkerley, 1852–1941), seorang jurnalis, novelis, dan penyair asal Inggris.
Lirik ini pertama kali diterbitkan dalam bukunya yang berjudul *Bees in Amber: A Little Book of Thoughtful Verse* pada tahun **1908**. Oxenham hidup di masa di mana dunia sedang mengalami ketegangan kolonialisme, nasionalisme yang sempit, dan meningkatnya perpecahan rasial di berbagai belahan dunia.
Melalui puisi ini, Oxenham ingin menyampaikan visi Kristen yang melampaui sekat-sekat geografis, rasial, dan budaya. Ia ingin menekankan bahwa kasih Kristus adalah satu-satunya kekuatan yang mampu menyatukan manusia yang terpecah belah oleh ego dan batas negara.
### 2. Komposisi Musik: Alexander R. Reinagle
Meskipun liriknya ditulis oleh Oxenham, melodi yang paling populer digunakan untuk lagu ini (dalam format *hymn*) adalah nada yang bernama **"St. Peter"**. Melodi ini diciptakan oleh **Alexander R. Reinagle** (1799–1877), seorang organis dan komponis asal Inggris.
Menariknya, musik gubahan Reinagle sebenarnya dibuat jauh sebelum lirik Oxenham ditulis. Musik ini awalnya ditulis pada tahun 1836 untuk mengiringi mazmur. Ketika para penyunting buku nyanyian gereja mencari melodi yang tepat untuk lirik Oxenham yang kuat dan universal, mereka menemukan bahwa nada "St. Peter" yang tenang dan megah sangat cocok dengan pesan persatuan yang ingin disampaikan.
### 3. Latar Belakang Makna dan Pesan
Lagu ini diciptakan sebagai sebuah "protes rohani" terhadap eksklusivitas. Beberapa poin penting dalam liriknya adalah:
* **Menghapus Batas Geografis:** Kalimat *"In Christ there is no East or West"* secara eksplisit menentang pemisahan dunia antara "Timur" dan "Barat" yang saat itu sering dianggap sebagai dunia yang berlawanan (terutama dalam konteks kolonialisme Inggris).
* **Kesatuan Umat Manusia:** Bait kedua biasanya berbunyi, *"In Him no South or North"* (Di dalam Dia tiada Selatan atau Utara), yang menekankan bahwa tidak ada perbedaan derajat atau asal-usul di mata Tuhan.
* **Kasih sebagai Ikatan:** Inti dari lagu ini adalah bahwa jika seseorang benar-benar mencintai Kristus, maka ia tidak mungkin membenci sesama manusia hanya karena latar belakang suku, negara, atau bangsa. Cinta kepada Tuhan adalah dasar untuk mencintai sesama tanpa syarat.
### 4. Relevansi Lagu dalam Sejarah
Lagu ini menjadi sangat berpengaruh di abad ke-20 karena pesan **perdamaian dan rekonsiliasinya**. Lagu ini sering dinyanyikan dalam pertemuan-pertemuan ekumenis (pertemuan gereja-gereja sedunia) untuk menunjukkan bahwa meskipun denominasi dan budaya berbeda, mereka disatukan oleh satu keyakinan.
Di tengah situasi perang dan konflik rasial yang sering terjadi di dunia, lagu ini dianggap sebagai pengingat bahwa identitas sebagai "umat manusia" dan "milik Kristus" seharusnya berada di atas identitas nasionalisme atau kesukuan yang sering memicu permusuhan.
### Kesimpulan
*In Christ There Is No East or West* adalah sebuah "perkawinan" antara puisi yang visioner (Oxenham) dan melodi yang elegan (Reinagle). Lagu ini tetap bertahan selama lebih dari satu abad bukan hanya karena melodinya yang mudah diingat, tetapi karena **pesannya yang tak lekang oleh waktu**: bahwa di hadapan kasih yang sejati, semua dinding pemisah buatan manusia akan runtuh.
Dalam bahasa Indonesia, lagu ini sering muncul di buku-buku nyanyian gereja (seperti *Kidung Jemaat* atau *Pelengkap Kidung Jemaat*) dan tetap dinyanyikan hingga hari ini sebagai doa untuk persatuan dunia.
Berikut adalah rincian detail mengenai asal-usul, penulis, dan makna di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis Lirik: John Oxenham
Lirik lagu ini ditulis oleh **John Oxenham** (nama pena dari William Arthur Dunkerley, 1852–1941), seorang jurnalis, novelis, dan penyair asal Inggris.
Lirik ini pertama kali diterbitkan dalam bukunya yang berjudul *Bees in Amber: A Little Book of Thoughtful Verse* pada tahun **1908**. Oxenham hidup di masa di mana dunia sedang mengalami ketegangan kolonialisme, nasionalisme yang sempit, dan meningkatnya perpecahan rasial di berbagai belahan dunia.
Melalui puisi ini, Oxenham ingin menyampaikan visi Kristen yang melampaui sekat-sekat geografis, rasial, dan budaya. Ia ingin menekankan bahwa kasih Kristus adalah satu-satunya kekuatan yang mampu menyatukan manusia yang terpecah belah oleh ego dan batas negara.
### 2. Komposisi Musik: Alexander R. Reinagle
Meskipun liriknya ditulis oleh Oxenham, melodi yang paling populer digunakan untuk lagu ini (dalam format *hymn*) adalah nada yang bernama **"St. Peter"**. Melodi ini diciptakan oleh **Alexander R. Reinagle** (1799–1877), seorang organis dan komponis asal Inggris.
Menariknya, musik gubahan Reinagle sebenarnya dibuat jauh sebelum lirik Oxenham ditulis. Musik ini awalnya ditulis pada tahun 1836 untuk mengiringi mazmur. Ketika para penyunting buku nyanyian gereja mencari melodi yang tepat untuk lirik Oxenham yang kuat dan universal, mereka menemukan bahwa nada "St. Peter" yang tenang dan megah sangat cocok dengan pesan persatuan yang ingin disampaikan.
### 3. Latar Belakang Makna dan Pesan
Lagu ini diciptakan sebagai sebuah "protes rohani" terhadap eksklusivitas. Beberapa poin penting dalam liriknya adalah:
* **Menghapus Batas Geografis:** Kalimat *"In Christ there is no East or West"* secara eksplisit menentang pemisahan dunia antara "Timur" dan "Barat" yang saat itu sering dianggap sebagai dunia yang berlawanan (terutama dalam konteks kolonialisme Inggris).
* **Kesatuan Umat Manusia:** Bait kedua biasanya berbunyi, *"In Him no South or North"* (Di dalam Dia tiada Selatan atau Utara), yang menekankan bahwa tidak ada perbedaan derajat atau asal-usul di mata Tuhan.
* **Kasih sebagai Ikatan:** Inti dari lagu ini adalah bahwa jika seseorang benar-benar mencintai Kristus, maka ia tidak mungkin membenci sesama manusia hanya karena latar belakang suku, negara, atau bangsa. Cinta kepada Tuhan adalah dasar untuk mencintai sesama tanpa syarat.
### 4. Relevansi Lagu dalam Sejarah
Lagu ini menjadi sangat berpengaruh di abad ke-20 karena pesan **perdamaian dan rekonsiliasinya**. Lagu ini sering dinyanyikan dalam pertemuan-pertemuan ekumenis (pertemuan gereja-gereja sedunia) untuk menunjukkan bahwa meskipun denominasi dan budaya berbeda, mereka disatukan oleh satu keyakinan.
Di tengah situasi perang dan konflik rasial yang sering terjadi di dunia, lagu ini dianggap sebagai pengingat bahwa identitas sebagai "umat manusia" dan "milik Kristus" seharusnya berada di atas identitas nasionalisme atau kesukuan yang sering memicu permusuhan.
### Kesimpulan
*In Christ There Is No East or West* adalah sebuah "perkawinan" antara puisi yang visioner (Oxenham) dan melodi yang elegan (Reinagle). Lagu ini tetap bertahan selama lebih dari satu abad bukan hanya karena melodinya yang mudah diingat, tetapi karena **pesannya yang tak lekang oleh waktu**: bahwa di hadapan kasih yang sejati, semua dinding pemisah buatan manusia akan runtuh.
Dalam bahasa Indonesia, lagu ini sering muncul di buku-buku nyanyian gereja (seperti *Kidung Jemaat* atau *Pelengkap Kidung Jemaat*) dan tetap dinyanyikan hingga hari ini sebagai doa untuk persatuan dunia.
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.