NP
B'rilah Sifat Murah Hati
Grant Us, Lord, the Grace of Giving
358
Nomor
Kode
NP 358
Buku
Nyanyian Pujian
Tematik
Pelengkap Kebaktian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Christian F. Witt
Pencipta Syair
tak dikenal
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
1 bait
1
Brilah sifat murah hati
Pada kami, ya Tuhan,
Agar sluruh hidup kami
Rela kami baktikan. Amin.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Bβrilah Sifat Murah Hati"** (atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan judul *βGrant Us, Lord, the Grace of Givingβ*) adalah sebuah kidung rohani yang memiliki sejarah unik karena melibatkan perpaduan antara komposisi musik klasik dari abad ke-18 dan penulisan lirik yang dilakukan jauh di kemudian hari.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu ini:
### 1. Komposisi Musik: Christian F. Witt (1715)
Melodi lagu ini berasal dari seorang komposer Jerman bernama **Christian F. Witt** (sekitar 1660β1716). Witt adalah seorang organis gereja dan kapelmeister (pemimpin musik) di istana Gotha, Jerman.
Pada tahun **1715**, Witt menyusun sebuah koleksi nyanyian berjudul *Psalmodia Sacra*. Di dalam koleksi inilah muncul melodi yang kemudian dikenal dengan nama lagu **"STUTTGART"**. Awalnya, melodi ini dikaitkan dengan lirik Jerman yang berbeda (*"Sollt es gleich bisweilen scheinen"*), yang secara tradisional digunakan untuk merenungkan pemeliharaan Tuhan dalam kesulitan.
Melodi ini sangat dicintai karena karakternya yang kuat, penuh semangat, dan memiliki struktur yang memungkinkan jemaat untuk bernyanyi dengan khidmat namun penuh pengharapan.
### 2. Penulisan Lirik: William G. Stiff (1962)
Meskipun melodinya sudah berusia ratusan tahun, lirik yang kita kenal sebagai *"Grant Us, Lord, the Grace of Giving"* ditulis jauh kemudian. Penulisnya adalah **William G. Stiff**, seorang pendeta berkebangsaan Amerika.
Lirik ini ditulis pada tahun **1962**. Kisah di balik penulisannya berakar dari keinginan untuk menyediakan lagu jemaat yang secara khusus berfokus pada **konsep penatalayanan (stewardship)** atau kedermawanan Kristen.
Pada pertengahan abad ke-20, banyak gereja di Amerika mencari lagu yang bukan sekadar tentang memuji Tuhan, tetapi lagu yang menantang jemaat untuk hidup sebagai cerminan kasih Tuhan melalui harta dan waktu mereka. William G. Stiff menjawab kebutuhan ini dengan menulis lirik yang sangat praktis namun puitis.
### 3. Makna di Balik Lirik
Lirik yang ditulis oleh Stiff berfokus pada kerendahan hati bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia adalah titipan dari Tuhan. Inti dari lagunya adalah:
* **Pengakuan bahwa semua dari Tuhan:** Kita hanyalah pengelola (steward) atas apa yang diberikan Tuhan.
* **Permohonan untuk murah hati:** Meminta Tuhan agar hati kita tidak menjadi kikir, melainkan mampu memberi dengan sukacita, mengikuti teladan Tuhan yang memberikan Anak-Nya.
* **Panggilan untuk melayani:** Bahwa memberi bukan sekadar uang, tetapi memberikan hidup dan kasih bagi sesama yang membutuhkan.
### 4. Mengapa Lagu ini Terkenal?
Lagu ini menjadi salah satu pilihan utama di gereja-gereja (termasuk gereja-gereja di Indonesia dalam buku nyanyian seperti *Kidung Jemaat*) karena:
* **Kesesuaian Melodi dan Pesan:** Irama "Stuttgart" yang megah namun sederhana sangat cocok dengan tema pemberian yang tulus.
* **Fokus pada Praktik Hidup:** Lagu ini sering digunakan dalam momen pengumpulan persembahan (kolekte) karena liriknya secara langsung berbicara tentang tindakan memberi.
* **Universalitas:** Karena tidak terikat pada satu doktrin teologis yang sempit, lagu ini diterima dengan baik di berbagai denominasi Kristen, baik Katolik maupun Protestan.
### Kesimpulan
Secara singkat, lagu ini adalah "perkawinan" antara tradisi musik gereja Jerman abad ke-18 yang disiplin dengan refleksi spiritual Amerika abad ke-20 mengenai kemurahan hati. Melodi gubahan **Christian F. Witt** memberikan "kerangka" yang kokoh, sementara lirik **William G. Stiff** memberikan "jiwa" yang mengingatkan umat untuk selalu bersyukur dan tidak menggenggam dunia terlalu erat.
Dalam buku *Kidung Jemaat* (KJ) di Indonesia, lagu ini dapat ditemukan pada **KJ No. 299**, yang tetap sering dinyanyikan hingga saat ini sebagai pengingat akan panggilan untuk menjadi saluran berkat bagi sesama.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu ini:
### 1. Komposisi Musik: Christian F. Witt (1715)
Melodi lagu ini berasal dari seorang komposer Jerman bernama **Christian F. Witt** (sekitar 1660β1716). Witt adalah seorang organis gereja dan kapelmeister (pemimpin musik) di istana Gotha, Jerman.
Pada tahun **1715**, Witt menyusun sebuah koleksi nyanyian berjudul *Psalmodia Sacra*. Di dalam koleksi inilah muncul melodi yang kemudian dikenal dengan nama lagu **"STUTTGART"**. Awalnya, melodi ini dikaitkan dengan lirik Jerman yang berbeda (*"Sollt es gleich bisweilen scheinen"*), yang secara tradisional digunakan untuk merenungkan pemeliharaan Tuhan dalam kesulitan.
Melodi ini sangat dicintai karena karakternya yang kuat, penuh semangat, dan memiliki struktur yang memungkinkan jemaat untuk bernyanyi dengan khidmat namun penuh pengharapan.
### 2. Penulisan Lirik: William G. Stiff (1962)
Meskipun melodinya sudah berusia ratusan tahun, lirik yang kita kenal sebagai *"Grant Us, Lord, the Grace of Giving"* ditulis jauh kemudian. Penulisnya adalah **William G. Stiff**, seorang pendeta berkebangsaan Amerika.
Lirik ini ditulis pada tahun **1962**. Kisah di balik penulisannya berakar dari keinginan untuk menyediakan lagu jemaat yang secara khusus berfokus pada **konsep penatalayanan (stewardship)** atau kedermawanan Kristen.
Pada pertengahan abad ke-20, banyak gereja di Amerika mencari lagu yang bukan sekadar tentang memuji Tuhan, tetapi lagu yang menantang jemaat untuk hidup sebagai cerminan kasih Tuhan melalui harta dan waktu mereka. William G. Stiff menjawab kebutuhan ini dengan menulis lirik yang sangat praktis namun puitis.
### 3. Makna di Balik Lirik
Lirik yang ditulis oleh Stiff berfokus pada kerendahan hati bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia adalah titipan dari Tuhan. Inti dari lagunya adalah:
* **Pengakuan bahwa semua dari Tuhan:** Kita hanyalah pengelola (steward) atas apa yang diberikan Tuhan.
* **Permohonan untuk murah hati:** Meminta Tuhan agar hati kita tidak menjadi kikir, melainkan mampu memberi dengan sukacita, mengikuti teladan Tuhan yang memberikan Anak-Nya.
* **Panggilan untuk melayani:** Bahwa memberi bukan sekadar uang, tetapi memberikan hidup dan kasih bagi sesama yang membutuhkan.
### 4. Mengapa Lagu ini Terkenal?
Lagu ini menjadi salah satu pilihan utama di gereja-gereja (termasuk gereja-gereja di Indonesia dalam buku nyanyian seperti *Kidung Jemaat*) karena:
* **Kesesuaian Melodi dan Pesan:** Irama "Stuttgart" yang megah namun sederhana sangat cocok dengan tema pemberian yang tulus.
* **Fokus pada Praktik Hidup:** Lagu ini sering digunakan dalam momen pengumpulan persembahan (kolekte) karena liriknya secara langsung berbicara tentang tindakan memberi.
* **Universalitas:** Karena tidak terikat pada satu doktrin teologis yang sempit, lagu ini diterima dengan baik di berbagai denominasi Kristen, baik Katolik maupun Protestan.
### Kesimpulan
Secara singkat, lagu ini adalah "perkawinan" antara tradisi musik gereja Jerman abad ke-18 yang disiplin dengan refleksi spiritual Amerika abad ke-20 mengenai kemurahan hati. Melodi gubahan **Christian F. Witt** memberikan "kerangka" yang kokoh, sementara lirik **William G. Stiff** memberikan "jiwa" yang mengingatkan umat untuk selalu bersyukur dan tidak menggenggam dunia terlalu erat.
Dalam buku *Kidung Jemaat* (KJ) di Indonesia, lagu ini dapat ditemukan pada **KJ No. 299**, yang tetap sering dinyanyikan hingga saat ini sebagai pengingat akan panggilan untuk menjadi saluran berkat bagi sesama.
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.