Bekasi, Cikarang & Karawang
155
Nomor
Kode
NKI 155
Buku
Nyanyian Kemenangan Iman
Tematik
Doa
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 240a, NP 13
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
1
Datanglah ya sumber rahmat, selaraskan hatiku Menyanyikan kasih s’lamat yang tak kunjung berhenti Ajar aku madah indah, gita balai surga-Mu Aku puji gunung kokoh gunung pengasihan-Mu.
2
Hingga kini ku selamat, dengan kuat yang kau b’ri Kuharapkan akan dapat sampai di neg’ri seri Yesus cari akan daku, domba binal yang sesat Untuk membela diriku dipikul-Nya salib b’rat.
3
Tiap hari kuberutang, pada kasih abadi Rantailah hatiku curang dengan rahmat tak henti Ku dipikat pencobaan, meninggalkan kasih-Mu Inilah hatiku Tuhan materaikan bagi-Mu.
Partitur / Not
Partitur Chord NKI 155
Klik untuk zoom

Partitur chord belum tersedia

Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — NKI 155 1
Slide 2 — NKI 155 2
Slide 3 — NKI 155 3
Kisah di Balik Lagu
Kisah di balik lagu pujian **"Come, Thou Fount of Every Blessing"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Allah Bapa, Sumber Kurnia"*) adalah salah satu kisah pertobatan paling dramatis dan mengharukan dalam sejarah musik rohani.

Lagu ini ditulis oleh **Robert Robinson** pada tahun **1758**, saat ia baru berusia 22 tahun. Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:

### 1. Masa Muda yang Penuh Pemberontakan
Robert Robinson lahir di Norfolk, Inggris, pada tahun 1735. Ia kehilangan ayahnya saat masih kecil, dan karena kemiskinan, ia tumbuh menjadi remaja yang liar dan pemberontak. Pada usia 17 tahun, ia bergabung dengan kelompok pemuda yang suka mabuk-mabukan dan membuat onar di kota London.

Suatu hari, ia dan teman-temannya pergi ke sebuah kebaktian hanya untuk mengejek pengkhotbah terkenal saat itu, **George Whitefield**. Mereka berniat mencari hiburan dengan mengolok-olok orang-orang yang sedang beribadah.

### 2. Pertobatan yang Mengguncang
Namun, rencana itu berubah total. Saat Whitefield berkhotbah tentang penghakiman yang akan datang (berdasarkan ayat Matius 3:7), hati Robinson tersentuh secara luar biasa. Ia merasa setiap kata yang diucapkan pengkhotbah itu seperti ditujukan langsung kepada dosa-dosanya.

Robinson meninggalkan gereja dalam keadaan ketakutan dan penuh pergumulan batin selama tiga tahun berikutnya. Ia merasa dirinya terlalu buruk untuk diampuni. Akhirnya, pada usia 20 tahun, ia menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan dan menemukan kedamaian yang ia cari.

### 3. Lahirnya Lagu Tersebut
Tiga tahun setelah pertobatannya, Robinson menjadi seorang pengkhotbah Methodist. Ia menulis "Come, Thou Fount of Every Blessing" untuk disiapkan sebagai lagu penutup kebaktian peringatan Pentakosta.

Liriknya adalah refleksi dari pengalaman hidupnya sendiri:
* *"Hitherto by Thy help I’ve come"* (Sejauh ini oleh pertolongan-Mu aku datang) — merujuk pada bagaimana Tuhan membawanya keluar dari kehidupan liarnya.
* *"Prone to wander, Lord, I feel it; Prone to leave the God I love"* (Cenderung menyimpang, ya Tuhan, aku merasakannya; Cenderung meninggalkan Allah yang kukasihi) — ini adalah pengakuan jujur Robinson atas sifat manusianya yang lemah dan mudah jatuh kembali ke dalam dosa.

### 4. Legenda tentang "Lupa Diri"
Ada sebuah legenda terkenal (meskipun akurasinya sering diperdebatkan oleh sejarawan) yang sering diceritakan tentang Robinson di masa tuanya.

Dikatakan bahwa bertahun-tahun kemudian, Robinson menjauh dari iman dan menjadi pribadi yang pahit. Suatu hari, saat sedang bepergian dengan kereta kuda, ia duduk bersebelahan dengan seorang wanita muda yang tidak mengenalinya. Wanita itu sedang membaca buku nyanyian rohani dan menyenandungkan "Come, Thou Fount of Every Blessing."

Wanita itu bertanya kepada Robinson, "Apa pendapat Anda tentang lagu yang indah ini?"

Robinson, dengan berlinang air mata, menjawab, "Nyonya, saya adalah orang miskin dan malang yang menulis lagu itu bertahun-tahun yang lalu, dan saya akan memberikan seluruh dunia jika saya bisa merasakan kembali apa yang saya rasakan saat saya menulisnya."

### Mengapa Lagu ini Begitu Berkesan?
Lagu ini tetap abadi karena kejujurannya. Kebanyakan lagu pujian berfokus pada keagungan Tuhan, namun lirik Robinson secara berani mengakui **kerapuhan manusia**. Bagian *"Prone to wander"* adalah pengakuan yang sangat manusiawi, yang membuat setiap orang yang menyanyikannya merasa bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan menjaga iman.

Di Indonesia, lagu ini sering dinyanyikan dengan nada yang khidmat, menjadi pengingat bagi jemaat untuk terus bersandar pada "Ebenezer" (batu pertolongan) Tuhan, seperti yang tertulis dalam lirik aslinya: *"Here I raise my Ebenezer; Hither by Thy help I’m come."* (Di sini kudirikan batu pertolongan, oleh pertolongan-Mu aku sampai di sini).

Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.