Bekasi, Cikarang & Karawang
52
Nomor
Do=G
Nada Dasar
Kode
KK 52
Buku
Kidung Keesaan
Tematik
Puji-pujian dan Pembukaan Ibadah
Nada Dasar
Do=G
Ketukan
3/4 ketuk
Metronom
100
Jumlah Bait
5 bait
Style
FinalWaltz
Pencipta Lagu
Stralsund/Kitab Nyanyian Freylinghausen (1665)
Pencipta Syair
Joachim Neander-Neumann (1680)
Penerjemah
Yamuger (1975)
Cross Ref.
KJ 10 , NR 10 , KC 12 , BE 6, KPJ 23
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
1
Pujilah Tuhan, Sang Raja yang mahamulia! Segenap hati dan jiwaku, pujilah Dia! Datang berkaum, brilah musikmu bergaung, angkatlah puji-pujian!
2
Pujilah Tuhan, segala kuasa pada-Nya! Sayap kasih-Nya yang aman mendukung anak-Nya! Tiada terpri yang kepadamu dibri; tidakkah itu kaurasa?
3
Pujilah Tuhan yang bijak menggubah tubuhmu: dalam kasih-Nya seluruh hidupmu tertuntun; hatimu tahu: berulang kali engkau oleh sayap-Nya terlindung.
4
Pujilah Tuhan yang dapat dan mau melakukan jauh melebihi doamu dan yang kaurindukan. Ingat teguh: Ia berkuasa penuh! Kasih-Nya trus kautemukan.
5
Pujilah Tuhan! Hai jiwaku, mari bernyanyi! Semua makhluk bernapas, iringilah kami! Puji terus Nama Yang Mahakudus! Padukan suaramu: Amin.
Partitur / Not
Partitur Chord KK 52
Klik untuk zoom

Partitur chord belum tersedia

Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — KK 52 1
Slide 2 — KK 52 2
Slide 3 — KK 52 3
Slide 4 — KK 52 4
Slide 5 — KK 52 5
Kisah di Balik Lagu
"Pujilah Tuhan, Sang Raja" (as known in Indonesian hymnody) atau aslinya "Lobe den Herren, den mächtigen König der Ehren" adalah salah satu lagu pujian Kristen yang paling agung dan abadi. Kisah di balik lagu ini melibatkan seorang penyair saleh yang hidup dalam periode pergolakan spiritual, sebuah melodi kuno yang megah, dan penyebaran luas melalui gerakan kebangunan rohani. Mari kita selami lebih dalam kisah detailnya.

---

### I. Sang Penulis Lirik: Joachim Neander (1650-1680)

Kisah ini dimulai dengan seorang tokoh bernama **Joachim Neander**. Nama ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka yang akrab dengan sejarah geologi dan evolusi, nama "Neanderthal" akan berdering. Ya, Lembah Neander (Neandertal) di Jerman, tempat fosil Homo neanderthalensis ditemukan, dinamai dari lembah sungai tempat Joachim Neander sering menghabiskan waktu dalam kontemplasi dan penulisan kidung.

1. **Masa Muda yang Bergelora:** Joachim Neander lahir pada tahun 1650 di Bremen, Jerman. Masa mudanya ditandai dengan semangat pemberontakan dan ketidakpedulian terhadap agama. Ia dikenal sebagai seorang pemuda yang liar, sering berpesta dan tidak menunjukkan minat pada ajaran gereja.

2. **Titik Balik Spiritual:** Kehidupan Neander berubah drastis setelah ia menghadiri khotbah seorang pengkhotbah Pietis terkemuka, Theodor Undereyk. Awalnya, ia pergi ke gereja hanya untuk mengolok-olok. Namun, khotbah Undereyk begitu mengena di hatinya, memimpinnya pada pertobatan yang mendalam dan pengalaman spiritual yang mengubah hidup.

3. **Jalan Menuju Pelayanan:** Setelah pertobatannya, Neander menjadi seorang siswa yang tekun dan kemudian menjadi guru privat di sebuah keluarga di Heidelberg. Pada tahun 1674, ia diangkat sebagai rektor atau kepala sekolah di Latin School of the Reformed Church di Düsseldorf.

4. **Kontroversi dan Pengungsian:** Neander adalah penganut kuat Pietisme, sebuah gerakan dalam Protestanisme yang menekankan pengalaman spiritual pribadi, kesalehan, dan studi Alkitab, seringkali berbeda dengan ortodoksi gereja yang kaku pada masa itu. Pandangannya yang Pietis dan praktiknya mengadakan pertemuan-pertemuan doa terpisah dari gereja resmi, membuatnya berselisih dengan para pemimpin gereja yang lebih ortodoks di Düsseldorf. Akibatnya, ia diberhentikan dari jabatannya pada tahun 1677.

5. **Di Lembah Neander:** Selama periode pengungsian dan pengasingannya inilah, Joachim Neander sering mengasingkan diri ke lembah sungai Düssel yang indah di dekat Düsseldorf. Di sana, di antara bebatuan dan gua-gua, ia merenung, berdoa, dan menuangkan perasaannya dalam bentuk kidung-kidung pujian. Lembah ini kemudian dinamai "Neandertal" untuk menghormatinya.

6. **Kembali dan Akhir Hidup:** Pada tahun 1679, setelah beberapa intervensi dan permohonan, Neander diizinkan kembali ke Bremen sebagai asisten pendeta. Namun, hidupnya singkat. Ia meninggal karena TBC pada tahun 1680, pada usia yang sangat muda, 30 tahun. Meskipun singkat, hidupnya sangat produktif. Ia menulis sekitar 60 kidung, menjadikannya salah satu penulis kidung Jerman yang paling penting pada abad ke-17.

### II. Lirik "Lobe den Herren, den mächtigen König der Ehren"

Diperkirakan Neander menulis "Lobe den Herren" sekitar tahun 1679, mungkin selama masa-masa sulitnya atau setelah ia kembali ke Bremen. Kidung ini adalah sebuah ekspresi agung dari keyakinannya akan kuasa dan pemeliharaan Tuhan, terinspirasi oleh Mazmur 103 dan 150.

**Beberapa tema utama dalam liriknya:**

* **Panggilan untuk Memuji:** Setiap bait adalah seruan untuk memuji Tuhan, mengagumi kebesaran-Nya sebagai Raja Kemuliaan.
* **Keagungan Penciptaan:** Neander mengingatkan umat percaya akan ciptaan Tuhan yang megah dan bagaimana Dia menopang segala sesuatu.
* **Pemeliharaan Ilahi:** Liriknya dengan indah menggambarkan bagaimana Tuhan seperti elang yang melindungi anak-anaknya, menopang dengan sayap-Nya, dan memberkati dengan rahmat-Nya. Ini adalah inti dari iman dan pengharapan dalam menghadapi kesulitan.
* **Penebusan dan Anugerah:** Lagu ini juga menyinggung tentang penebusan dosa dan anugerah tak terbatas yang diberikan Tuhan kepada umat-Nya.
* **Kesetiaan yang Tak Berkesudahan:** Sebuah pengingat akan janji-janji Tuhan yang kekal dan kesetiaan-Nya dari generasi ke generasi.

Kidung ini adalah sebuah mahakarya dari iman yang berakar dalam Alkitab dan pengalaman pribadi akan anugerah Tuhan.

### III. Melodi: "STRALSUND" atau "Lobe den Herren" (1665)

Melodi yang kita kenal dan cintai untuk "Lobe den Herren" berasal dari sumber yang sedikit lebih tua dari liriknya. Melodi ini pertama kali diterbitkan pada tahun **1665** dalam sebuah buku himne yang dikenal sebagai **Praxis Pietatis Melica** atau **Stralsund Gesangbuch**, yang disusun oleh Johann Crüger dan diterbitkan di Stralsund.

Melodi ini adalah salah satu yang paling populer pada masanya. Karakternya yang kuat, agung, dan mudah dinyanyikan membuatnya sempurna untuk dinyanyikan oleh jemaat. Meskipun aslinya mungkin ditulis untuk lirik yang berbeda, kombinasi melodi "STRALSUND" dengan lirik puitis Neander adalah sebuah pernikahan musik dan puisi yang sempurna, menciptakan simfoni pujian yang beresonansi kuat.

### IV. Penyebaran Melalui Kitab Nyanyian Freylinghausen (1704)

Setelah kematian Neander, kidung-kidungnya, termasuk "Lobe den Herren," mulai mendapatkan pengakuan yang luas. Peran kunci dalam penyebaran ini dimainkan oleh **Johann Anastasius Freylinghausen** (1670-1739).

Freylinghausen adalah seorang teolog dan penulis kidung Pietis yang merupakan menantu dari August Hermann Francke, salah satu tokoh utama Pietisme di Halle. Pada tahun 1704, Freylinghausen menerbitkan sebuah buku himne yang sangat berpengaruh berjudul **"Geistreiches Gesangbuch"** (Kidung Rohani yang Penuh Roh).

Buku ini menjadi salah satu koleksi kidung Pietis paling penting pada masanya dan sangat membantu mempopulerkan banyak kidung yang sebelumnya kurang dikenal, termasuk karya-karya Neander. "Geistreiches Gesangbuch" memiliki banyak edisi dan menjadi buku himne rumah tangga di banyak keluarga Protestan Jerman, yang secara efektif menyebarkan "Lobe den Herren" ke seluruh Jerman dan seterusnya.

### V. Joachim Neander-Neumann: Klarifikasi Nama

Mengenai nama "Joachim Neander-Neumann" dalam pertanyaan:
Joachim Neander adalah nama aslinya. Nama "Neander" sendiri berasal dari kata Yunani "????????" (neandros) yang berarti "orang baru" atau "new man". Terkadang, dalam tradisi ilmiah atau puitis pada masa itu, nama seseorang akan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin atau Yunani. "Neumann" adalah terjemahan langsung dari "Neander" ke dalam bahasa Jerman (Neu = baru, Mann = orang/manusia).

Jadi, **Joachim Neander dan Joachim Neumann sebenarnya merujuk pada orang yang sama**. Penambahan "Neumann" setelah "Neander" seringkali hanya untuk memberikan klarifikasi etimologis atau sebagai variasi nama yang tidak umum. Dia paling dikenal secara historis sebagai Joachim Neander.

### VI. Warisan dan Pengaruh

"Lobe den Herren, den mächtigen König der Ehren" telah menjadi pilar dalam tradisi himne Kristen di seluruh dunia.

* **Penerjemahan ke Bahasa Inggris:** Kidung ini mendapatkan popularitas besar di dunia berbahasa Inggris melalui terjemahan yang indah dan kuat oleh **Catherine Winkworth** pada tahun 1863, dengan judul "Praise to the Lord, the Almighty, the King of Creation." Terjemahan Winkworth mempertahankan kekuatan puitis dan teologis dari lirik aslinya.
* **Penggunaan Lintas Denominasi:** Lagu ini ditemukan di hampir setiap buku himne Protestan, dari Lutheran hingga Reformed, Metodis, Baptis, dan banyak lagi. Kekuatan melodinya yang megah dan liriknya yang berpusat pada Tuhan membuatnya relevan dan dicintai oleh berbagai denominasi.
* **Keabadian Pesan:** Lebih dari 300 tahun setelah ditulis, pesan "Pujilah Tuhan, Sang Raja" tetap relevan. Ini adalah pengingat yang kuat akan kebesaran Tuhan, pemeliharaan-Nya yang penuh kasih, dan undangan untuk merayakan kebaikan-Nya dalam segala keadaan.

---

Singkatnya, "Pujilah Tuhan, Sang Raja" adalah sebuah simfoni iman yang lahir dari pengalaman pribadi seorang pemuda yang bergolak menjadi hamba Tuhan yang saleh (Joachim Neander), dipadukan dengan melodi kuno yang agung (dari Stralsund Gesangbuch 1665), dan disebarkan luas melalui gerakan kebangunan rohani (melalui Kitab Nyanyian Freylinghausen). Ini adalah testimoni abadi akan kuasa pujian dan pemeliharaan Tuhan yang tak berkesudahan.

Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.

1
Mari, Puji Dia
KK
2
Allah Hadir Bagi Kita
KK
3
Andai 'Ku Punya Banyak Lidah
KK
4
Angkatlah Hatimu Pada Tuhan
KK
5
Bagimu, Tuhan, Nyanyianku
KK
6
Bergemarlah Dan Bersukaria
KK
7
Berhimpun Semua
KK
8
Beribu Lidah Patutlah
KK
9
Bersoraklah Dan Puji Tuhan
KK
10
Bersoraklah, Hai Alam Semesta
KK
11
Bersyukurlah Pada Tuhan
KK
12
Bukalah Gapura Indah
KK
13
Bumi Dan Langit, Pujilah
KK
14
Bernyanyilah, Biduan Muda-Mudi
KK
15
Dengan Gembira
KK
16
Hai Makhluk Semua
KK
17
Gloria
KK
18
Suci, Suci, Suci
KK
19
Hai Mari Sembah
KK
20
Hai, Masyhurkanlah
KK
21
Haleluya! Alangkah Baik
KK
22
Haleluya, Haleluya
KK
23
Haleluya Pujilah
KK
24
Hanyalah Engkau, Tuhan
KK
25
Hari Minggu Hari Kudus
KK
26
Hari Minggu, Hari Yang Mulia
KK
27
Inilah Hari Minggu
KK
28
Hari Minggu Hari Tuhan
KK
29
Jemaat Allah, Marilah
KK
30
Jiwaku Memuji Tuhan
KK
31
Kami Puji Dengan Riang
KK
32
'Kau Yang Layak
KK
33
Kepadamu,Tuhanku
KK
34
Kita Masuk Rumahnya
KK
35
'Ku Gembira 'Kau Berkata
KK
36
Mari, Bernyanyi Sertaku
KK
37
Mari Kita Puji
KK
38
Mari Menyembah
KK
39
Mari Sembah
KK
40
Marilah Bernyanyi
KK
41
Marilah Kita Siapkan Hati Kita
KK
42
Mulia, Mulia Namanya
KK
43
Nyanyikanlah Mazmur Bagi Tuhan
KK
44
Nyanyikanlah Nyanyian Baru
KK
45
O Hari Istirahat
KK
46
Patut Segenap Yang Ada
KK
47
Puji, Hai Jiwaku, Puji Tuhan
KK
48
Puji Tuhan, Pujilah Namanya
KK
49
Puji Yesus
KK
50
Pujilah Allah, Pujilah
KK
51
Pujilah Tuhan
KK
53
Salam Dan Hormat KepadaMu
KK
54
Pujilah Tuhanmu
KK
55
Muliakan Tuhan Allah
KK
56
Suci, Suci, Suci
KK
57
Sungguhlah Indah Rumahmu
KK
58
Terpujilah Allah
KK
59
Tuhan Allah Hadir
KK
60
Tuhan Allah, Namamu
KK
61
Tuhanku Yesus
KK
62
Ya Khalik Semesta
KK