Bekasi, Cikarang & Karawang
513
Nomor
Kode
KK 513
Buku
Kidung Keesaan
Tematik
Hidup Dalam Tuntunan Tuhan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Johannes Gijsbertus Bastiaans
Pencipta Syair
Jan Jacob Lodewijk Ten Kate
Cross Ref.
KJ 283
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
1
Gembalaku Tuhan! DombaNya senang: di rumput yang subur kenyang ku tertidur; dibimbingNya aku ke air tenang.
2
Gembalaku Tuhan! Jiwaku segar: demi harga tinggi namaNya sendiri dituntunNya aku di jalan benar.
3
Gembalaku Tuhan! Gentarku lenyap: kendati ancaman lembah kekelaman, petunjuk Tuhanku menghibur tetap.
4
Gembalaku Tuhan! Di gurun sepi diriku dijamu dimuka lawanku: baik roti, baik anggur padaku dibri.
5
Gembalaku Tuhan! Kudapat tempat di dalam rumahNya selama-lamanya; di sana selalu kutrima berkat.
Partitur / Not
Partitur Chord KK 513
Klik untuk zoom

Partitur chord belum tersedia

Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — KK 513 1
Slide 2 — KK 513 2
Slide 3 — KK 513 3
Slide 4 — KK 513 4
Slide 5 — KK 513 5
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Gembalaku Tuhan"** (atau dalam bahasa Belanda berjudul **"De Heer is mijn Herder"**) adalah gubahan musik yang sangat indah, yang didasarkan pada **Mazmur 23**.

Kisah di balik lagu ini tidak bisa dilepaskan dari kolaborasi antara seorang komponis terkemuka dan seorang penyair religius di Belanda pada abad ke-19. Berikut adalah detail kisah dan latar belakangnya:

### 1. Sumber Inspirasi: Mazmur 23
Inti dari lagu ini adalah penafsiran puitis terhadap Mazmur 23 karya Raja Daud: *"Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku..."* Tema ini adalah salah satu teks paling menghibur dalam Alkitab, yang berbicara tentang pemeliharaan, perlindungan, dan kasih setia Tuhan di tengah lembah kekelaman.

### 2. Penulis Lirik: Jan Jacob Lodewijk ten Kate (1819–1889)
**J.J.L. ten Kate** adalah seorang pendeta Gereja Reformasi Belanda dan salah satu penyair paling produktif di zamannya. Ia dikenal karena kemampuannya mengolah teks-teks Alkitab ke dalam bentuk puisi yang ritmis dan emosional.

Pada pertengahan abad ke-19, terdapat gerakan di kalangan gereja-gereja di Belanda untuk memperbarui musik gerejawi agar lebih menyentuh hati jemaat. Ten Kate menulis puisi "De Heer is mijn Herder" sebagai bentuk perenungan pribadi atas pengalaman hidupnya sebagai pendeta yang sering berhadapan dengan orang-orang yang sedang menderita atau kehilangan harapan. Baginya, Mazmur 23 bukan sekadar teks hafalan, melainkan "jangkar" jiwa saat badai kehidupan menerjang.

### 3. Komponis: Johannes Gijsbertus Bastiaans (1812–1875)
**J.G. Bastiaans** adalah seorang organis, komponis, dan pedagog musik terkemuka di Belanda. Ia menjabat sebagai organis di *Oude Kerk* (Gereja Tua) di Amsterdam. Bastiaans dikenal sebagai sosok yang sangat religius dan memiliki dedikasi tinggi untuk menjaga kualitas musik liturgi.

Bastiaans melihat dalam puisi Ten Kate sebuah kedalaman teologis yang sangat dalam. Ia kemudian mengomposisi melodi yang khidmat, tenang, dan kontemplatif. Musik yang ia ciptakan dirancang agar jemaat tidak hanya menyanyi, tetapi juga "merasakan" kehadiran Sang Gembala dalam keheningan gereja.

### 4. Konteks Sejarah dan Budaya
Karya ini lahir di era **Romantisisme** di Eropa. Pada masa itu, seni (termasuk musik dan sastra) sangat menekankan pada perasaan, pengalaman batin, dan hubungan personal dengan Tuhan. Kolaborasi Bastiaans dan Ten Kate ini menjadi bagian dari upaya gereja untuk menyajikan musik yang tidak hanya megah secara teknis (seperti era Bach atau Handel), tetapi juga intim dan menyentuh sisi manusiawi umat Kristen.

### 5. Makna dan Warisan
Lagu ini menjadi sangat populer di Belanda dan kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia melalui buku nyanyian gereja (seperti dalam Kidung Jemaat atau buku nyanyian gerejawi lainnya).

Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **"Penghiburan yang Sederhana"**.
* **Ten Kate** memberikan kata-kata yang menjadi bahasa doa bagi orang yang takut.
* **Bastiaans** memberikan nada yang memberikan rasa aman dan keteduhan.

Secara musikal, lagu ini sering dimainkan dengan tempo yang lambat dan penuh perasaan (legato). Bagi jemaat yang menyanyikannya, lagu ini bukan sekadar komposisi musik biasa, melainkan pengakuan iman bahwa di tengah dunia yang kacau, ada tangan yang menuntun, seperti seorang gembala yang menuntun dombanya ke padang rumput yang hijau dan air yang tenang.

**Kesimpulan:**
"Gembalaku Tuhan" bukan sekadar lagu pujian, melainkan hasil sinergi antara **teologi Mazmur** yang agung, **sastra puitis** yang intim, dan **komposisi musik** yang menenangkan. Lagu ini terus hidup hingga hari ini karena mampu menyuarakan jeritan hati manusia yang merindukan kedamaian di bawah perlindungan Sang Gembala Agung.

Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.