KK
Tak 'Ku Tahu 'Kan Hari Esok
I Know Who Holds Tomorrow
532
Nomor
Kode
KK 532
Buku
Kidung Keesaan
Tematik
Hidup Dalam Tuntunan Tuhan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Ira Forest Stanphill
Pencipta Syair
Ira Forest Stanphill
Penerjemah
Kristianto Pudjo Nugroho
Cross Ref.
NKB 49, GB 208, KPJ 65, PKJ 241
Syair / Lirik
3 bait
1
Tak ëku tahu ëkan hari esok,
namun langkahku tegap
Bukan surya kuharapkan,
karína surya ëkan lenyap.
O tiada ëku gelisah,
akan masa menjelang;
ëku berjalan serta Yesus.
Maka hatiku tenang.
Banyak hal tak kufahami
dalam masa menjelang.
Tapi tírang bagiku ini:
Tangan Tuhan yang pegang.
2
Makin tíranglah perjalanan,
makin tinggi aku naik.
Dan bebanku makin ringan,
makin nampaklah yang baik.
Di sanalah tírang abadi,
tiada tangis dan keluh;
Di negíri sebírang pelangi,
kita kílak ëkan bertemu.
3
Tak ëku tahu ëkan hari esok,
mungkin langit ëkan gelap.
Tapi Dia yang berkasihan,
melindungi ëku tetap.
Meski susah perjalanan,
gílombang dunia menderu,
dipimpinNya ëku bertahan
sampai akhir langkahku.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
4 slide
Kisah di Balik Lagu
Kisah di balik lagu "Tak 'Ku Tahu 'Kan Hari Esok" (aslinya "I Know Who Holds Tomorrow") karya Ira Forest Stanphill adalah salah satu kisah yang paling mengharukan dan transformatif dalam sejarah musik gospel. Lagu ini lahir dari badai kesedihan dan keputusasaan yang mendalam, yang kemudian diubah menjadi sebuah himne pengharapan dan keyakinan yang abadi.
Mari kita selami detailnya:
**Sosok Ira Forest Stanphill**
Ira Forest Stanphill (1914-1993) adalah seorang pendeta, evangelis, penyanyi, dan penulis lagu gospel asal Amerika yang sangat produktif. Ia menulis lebih dari 500 lagu sepanjang hidupnya, banyak di antaranya menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja Protestan, terutama di Amerika Serikat. Ia dikenal karena kemampuannya menyampaikan pesan Injil melalui musiknya yang tulus dan mengena.
**Pilar Penopang Hidup yang Runtuh**
Pada tahun 1950, kehidupan Ira Stanphill yang mapan dan penuh pelayanan mendadak terguncang hebat. Ia dan istrinya, Minnie, adalah pasangan yang sangat mencintai dan mendukung satu sama lain. Minnie bukan hanya istrinya, tetapi juga rekan pelayanannya, sahabatnya, dan pilar penopang emosional baginya. Mereka telah menikah selama bertahun-tahun dan membangun keluarga serta pelayanan bersama.
Namun, pada tahun itu, Minnie meninggal dunia secara tiba-tiba akibat kecelakaan mobil yang tragis. Kehilangan ini menghantam Ira dengan kekuatan yang tak terlukiskan. Dunia Ira Stanphill seolah runtuh. Ia bukan hanya kehilangan istrinya, tetapi juga semangat hidupnya, inspirasinya, dan bahkan kemampuannya untuk berkhotbah atau bernyanyi. Ia tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaan yang pekat.
**Momen Keputusasaan dan Pertanyaan Iman**
Dalam beberapa minggu dan bulan setelah kematian Minnie, Ira Stanphill merasa benar-benar hancur. Ia tidak bisa memahami mengapa Tuhan mengizinkan tragedi seperti ini terjadi padanya, seorang hamba-Nya yang setia. Ia bergumul dengan imannya, mempertanyakan kebaikan dan kedaulatan Tuhan. Ia merasa kehilangan arah, tidak tahu bagaimana ia akan melanjutkan hidup atau pelayanannya tanpa Minnie di sisinya. Setiap hari terasa seperti jurang yang dalam, dan masa depan tampak buram dan menakutkan.
Ia ingat suatu hari ia sedang mengemudi sendirian, pikirannya berkecamuk dengan kesedihan dan ketidakpastian. Air mata mengalir di pipinya. Ia memandang setir mobilnya, tangannya gemetar. Ia benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, bagaimana ia akan mengatasi rasa sakit ini, atau bagaimana ia bisa kembali melayani Tuhan dengan hati yang hancur. Pertanyaan "Bagaimana aku akan hidup esok?" terus menghantuinya.
**Titik Balik dan Inspirasi Ilahi**
Tepat di tengah badai kesedihan dan ketidakpastian itu, ketika ia merasa mencapai titik terendah dalam hidupnya, sebuah kesadaran spiritual yang mendalam tiba-tiba menyelimutinya. Meskipun ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok, dan meskipun banyak hal tentang masa depan yang tidak ia mengerti, satu hal ia tahu dengan pasti: **ia mengenal Pribadi yang memegang kendali atas hari esok.** Ia mengenal Tuhan.
Kesadaran ini bagaikan sinar terang yang menembus kegelapan pekat yang meliputinya. Rasa damai dan keyakinan mulai merayap masuk ke dalam hatinya yang terluka. Ia tidak perlu mengerti *bagaimana* semuanya akan berakhir, karena ia percaya pada *Siapa* yang memegang kendali. Ia diingatkan akan janji-janji Tuhan dan kebesaran-Nya yang tidak terbatas, bahkan di tengah penderitaan yang paling parah sekalipun.
Pada momen itulah, lirik-lirik lagu "I Know Who Holds Tomorrow" mulai mengalir deras dalam benaknya, hampir seperti sebuah wahyu. Ia dengan cepat menepi, mengambil secarik kertas dan pulpen, dan mulai menuliskan kata-kata yang menjadi himne pengharapan abadi ini:
* **Many things about tomorrow, I don't seem to understand,**
(Banyak hal tentang hari esok, aku tak mengerti)
* **But I know Who holds tomorrow, and I know Who holds my hand.**
(Namun kutahu siapa yang memegang hari esok, dan kutahu siapa yang memegang tanganku.)
**Lahirnya Sebuah Himne**
Dalam waktu singkat, seluruh lirik dan melodi lagu itu tercipta. Lagu ini bukan sekadar komposisi; itu adalah jeritan hati yang berubah menjadi deklarasi iman. Itu adalah kesaksian pribadinya tentang bagaimana iman dapat menjadi jangkar di tengah badai kehidupan.
Awalnya, Ira Stanphill sangat enggan untuk menyanyikan lagu ini di depan umum. Lagu itu terlalu personal, terlalu mentah, terlalu dekat dengan lukanya. Namun, atas desakan teman-teman dan rekan-rekan pelayanannya, ia akhirnya mulai membawakannya. Dan setiap kali ia menyanyikannya, terutama dengan suaranya yang tulus dan penuh emosi, orang-orang di seluruh dunia tersentuh dan terhibur.
Lagu "I Know Who Holds Tomorrow" dengan cepat menjadi salah satu lagu gospel yang paling dicintai dan sering dinyanyikan. Pesannya yang universal tentang menghadapi ketidakpastian masa depan dengan iman kepada Tuhan yang Mahakuasa telah menghibur jutaan orang yang mengalami kesedihan, kehilangan, kecemasan, dan ketidakpastian hidup.
**Warisan Abadi**
"I Know Who Holds Tomorrow" bukan hanya sebuah lagu bagi Ira Stanphill; itu adalah kesaksian hidupnya. Itu adalah bukti bahwa bahkan dari penderitaan yang paling mendalam sekalipun, Tuhan dapat melahirkan sesuatu yang indah dan penuh harapan. Lagu ini terus menjadi sumber kekuatan dan penghiburan bagi banyak orang di seluruh dunia, mengingatkan kita bahwa meskipun kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kita bisa memiliki damai sejahtera karena kita mengenal dan percaya pada Pribadi yang memegang kendali atas hari esok.
Ira Stanphill kemudian menikah lagi dengan Gladys, dan melanjutkan pelayanannya dengan semangat baru, selalu membawa serta pesan harapan yang lahir dari pengalamannya yang paling menyakitkan. Lagu ini tetap menjadi salah satu mahakaryanya yang paling berkesan, sebuah monumen bagi iman yang bertahan di tengah badai.
Mari kita selami detailnya:
**Sosok Ira Forest Stanphill**
Ira Forest Stanphill (1914-1993) adalah seorang pendeta, evangelis, penyanyi, dan penulis lagu gospel asal Amerika yang sangat produktif. Ia menulis lebih dari 500 lagu sepanjang hidupnya, banyak di antaranya menjadi sangat populer di kalangan gereja-gereja Protestan, terutama di Amerika Serikat. Ia dikenal karena kemampuannya menyampaikan pesan Injil melalui musiknya yang tulus dan mengena.
**Pilar Penopang Hidup yang Runtuh**
Pada tahun 1950, kehidupan Ira Stanphill yang mapan dan penuh pelayanan mendadak terguncang hebat. Ia dan istrinya, Minnie, adalah pasangan yang sangat mencintai dan mendukung satu sama lain. Minnie bukan hanya istrinya, tetapi juga rekan pelayanannya, sahabatnya, dan pilar penopang emosional baginya. Mereka telah menikah selama bertahun-tahun dan membangun keluarga serta pelayanan bersama.
Namun, pada tahun itu, Minnie meninggal dunia secara tiba-tiba akibat kecelakaan mobil yang tragis. Kehilangan ini menghantam Ira dengan kekuatan yang tak terlukiskan. Dunia Ira Stanphill seolah runtuh. Ia bukan hanya kehilangan istrinya, tetapi juga semangat hidupnya, inspirasinya, dan bahkan kemampuannya untuk berkhotbah atau bernyanyi. Ia tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaan yang pekat.
**Momen Keputusasaan dan Pertanyaan Iman**
Dalam beberapa minggu dan bulan setelah kematian Minnie, Ira Stanphill merasa benar-benar hancur. Ia tidak bisa memahami mengapa Tuhan mengizinkan tragedi seperti ini terjadi padanya, seorang hamba-Nya yang setia. Ia bergumul dengan imannya, mempertanyakan kebaikan dan kedaulatan Tuhan. Ia merasa kehilangan arah, tidak tahu bagaimana ia akan melanjutkan hidup atau pelayanannya tanpa Minnie di sisinya. Setiap hari terasa seperti jurang yang dalam, dan masa depan tampak buram dan menakutkan.
Ia ingat suatu hari ia sedang mengemudi sendirian, pikirannya berkecamuk dengan kesedihan dan ketidakpastian. Air mata mengalir di pipinya. Ia memandang setir mobilnya, tangannya gemetar. Ia benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, bagaimana ia akan mengatasi rasa sakit ini, atau bagaimana ia bisa kembali melayani Tuhan dengan hati yang hancur. Pertanyaan "Bagaimana aku akan hidup esok?" terus menghantuinya.
**Titik Balik dan Inspirasi Ilahi**
Tepat di tengah badai kesedihan dan ketidakpastian itu, ketika ia merasa mencapai titik terendah dalam hidupnya, sebuah kesadaran spiritual yang mendalam tiba-tiba menyelimutinya. Meskipun ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok, dan meskipun banyak hal tentang masa depan yang tidak ia mengerti, satu hal ia tahu dengan pasti: **ia mengenal Pribadi yang memegang kendali atas hari esok.** Ia mengenal Tuhan.
Kesadaran ini bagaikan sinar terang yang menembus kegelapan pekat yang meliputinya. Rasa damai dan keyakinan mulai merayap masuk ke dalam hatinya yang terluka. Ia tidak perlu mengerti *bagaimana* semuanya akan berakhir, karena ia percaya pada *Siapa* yang memegang kendali. Ia diingatkan akan janji-janji Tuhan dan kebesaran-Nya yang tidak terbatas, bahkan di tengah penderitaan yang paling parah sekalipun.
Pada momen itulah, lirik-lirik lagu "I Know Who Holds Tomorrow" mulai mengalir deras dalam benaknya, hampir seperti sebuah wahyu. Ia dengan cepat menepi, mengambil secarik kertas dan pulpen, dan mulai menuliskan kata-kata yang menjadi himne pengharapan abadi ini:
* **Many things about tomorrow, I don't seem to understand,**
(Banyak hal tentang hari esok, aku tak mengerti)
* **But I know Who holds tomorrow, and I know Who holds my hand.**
(Namun kutahu siapa yang memegang hari esok, dan kutahu siapa yang memegang tanganku.)
**Lahirnya Sebuah Himne**
Dalam waktu singkat, seluruh lirik dan melodi lagu itu tercipta. Lagu ini bukan sekadar komposisi; itu adalah jeritan hati yang berubah menjadi deklarasi iman. Itu adalah kesaksian pribadinya tentang bagaimana iman dapat menjadi jangkar di tengah badai kehidupan.
Awalnya, Ira Stanphill sangat enggan untuk menyanyikan lagu ini di depan umum. Lagu itu terlalu personal, terlalu mentah, terlalu dekat dengan lukanya. Namun, atas desakan teman-teman dan rekan-rekan pelayanannya, ia akhirnya mulai membawakannya. Dan setiap kali ia menyanyikannya, terutama dengan suaranya yang tulus dan penuh emosi, orang-orang di seluruh dunia tersentuh dan terhibur.
Lagu "I Know Who Holds Tomorrow" dengan cepat menjadi salah satu lagu gospel yang paling dicintai dan sering dinyanyikan. Pesannya yang universal tentang menghadapi ketidakpastian masa depan dengan iman kepada Tuhan yang Mahakuasa telah menghibur jutaan orang yang mengalami kesedihan, kehilangan, kecemasan, dan ketidakpastian hidup.
**Warisan Abadi**
"I Know Who Holds Tomorrow" bukan hanya sebuah lagu bagi Ira Stanphill; itu adalah kesaksian hidupnya. Itu adalah bukti bahwa bahkan dari penderitaan yang paling mendalam sekalipun, Tuhan dapat melahirkan sesuatu yang indah dan penuh harapan. Lagu ini terus menjadi sumber kekuatan dan penghiburan bagi banyak orang di seluruh dunia, mengingatkan kita bahwa meskipun kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kita bisa memiliki damai sejahtera karena kita mengenal dan percaya pada Pribadi yang memegang kendali atas hari esok.
Ira Stanphill kemudian menikah lagi dengan Gladys, dan melanjutkan pelayanannya dengan semangat baru, selalu membawa serta pesan harapan yang lahir dari pengalamannya yang paling menyakitkan. Lagu ini tetap menjadi salah satu mahakaryanya yang paling berkesan, sebuah monumen bagi iman yang bertahan di tengah badai.
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
NKB 49, GB 208, KPJ 65, PKJ 241
208
Tak 'Ku Tahu 'Kan Hari Esok
65
Aku Tan Ngreti Mengkon?
49
Tuhan yang Pegang
241
Tak 'Ku Tahu 'Kan Hari Esok
Tema :
Hidup Dalam Tuntunan Tuhan
503
Bersama Yesus 'Ku Tetap Teguh
504
Adalah Seorang Menaburkan Benih
505
Bagai Kapal Yang Berlayar
506
Baht'ra Yang Dipandu Yesus
507
Berkilat Halilintar
508
Bintang Pandanganku
509
Di Dalam Suka
510
Di Jalanku Diiringi
511
Gembala Baik Bersuling Nan Merdu
512
Gembalaku Allah
513
Gembalaku Tuhan!
514
Andaikan Kasihmu Tidak Merangkulku
515
Hai, Jangan Sendirian
516
Hanya Tuhan Sumber Hikmat
517
Hujan Berkat 'Kan Tercurah
518
Janganlah Takut
519
Kasih Tuhanku
520
'Kau Perkasa, 'Ku Lemah
521
Kaulah, Ya Tuhan, Surya Hidupku
522
Kidung Yang Merdu Di Hatiku
523
'Ku Ingin Selalu Dekat Padamu
524
Kudaki Jalan Mulia
525
Kuperlukan Jurus'lamat
526
Makin Dekat, Tuhan
527
Seindah Siang Disinari Terang
528
Sejahtera Tuhan
529
Seperti Wanita Di Pinggir Sumur
530
Serahkan Pada Tuhan
531
Serahkanlah Segala Kuatirmu
533
Tenanglah Kini Hatiku
534
Tersembunyi Ujung Jalan
535
Tiap Langkahku
536
Tolong Aku, Tuhan
537
Tenteramlah, Hai Jiwaku
538
Tuhan, 'Kau Gembala Kami
539
Tuhan, Pimpin Anakmu
540
Tuhan Sambut Jiwaku
541
Tuhan Yesus Sahabatku
542
Tuntun Aku, Tuhan Allah
543
Ya Cah'ya Kasih, Jalanku Kelam
544
Ya Tuhan, Bimbing Aku
545
Yesus Kristus Kehidupan Dunia
546
Yesus Sayang Padaku