NKB
Tuhan, Ambil Hidupku
Take My Life and Let It Be
181
Nomor
Kode
NKB 181a
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Tematik
Hidup Mengikut Tuhan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Yarborough
Pencipta Syair
Frances Ridley Havergal
Penerjemah
YAMUGER
Dengarkan di YouTube
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
6 slide
Kisah di Balik Lagu
Kisah di balik lagu **"Take My Life and Let It Be"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Tuhan, Ambil Hidupku"*) adalah salah satu kisah pengabdian paling menyentuh dalam sejarah musik Kristen. Lagu ini ditulis oleh **Frances Ridley Havergal** pada tahun 1874.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu tersebut:
### 1. Latar Belakang Penulis
Frances Ridley Havergal (1836β1879) adalah seorang penyair, komposer, dan penulis lagu rohani asal Inggris yang sangat berbakat. Ia dikenal sebagai "Penyair Kesucian" karena seluruh hidupnya didedikasikan untuk melayani Tuhan. Ia adalah anak seorang pendeta Anglikan dan telah menunjukkan kecerdasan luar biasa sejak kecil (ia bisa membaca Alkitab pada usia tiga tahun).
### 2. Momen Inspirasi (Februari 1874)
Kisah penciptaan lagu ini terjadi saat Frances sedang mengunjungi sebuah rumah besar bernama *Areley House* di Worcestershire, Inggris. Saat itu, ia tinggal di sana selama lima hari.
Pada tanggal 4 Februari 1874, Frances mengalami pengalaman rohani yang sangat dalam. Ia merasa Tuhan memanggilnya untuk memberikan seluruh hidupnya secara totalβtanpa sisaβkepada-Nya. Ia merasa bahwa selama ini ada bagian-bagian hidupnya yang mungkin belum benar-benar ia serahkan sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.
### 3. Penulisan Lirik
Malam itu, di dalam kamarnya, Frances menuliskan puisi yang menjadi lirik lagu ini. Dalam catatannya sendiri, ia menuliskan bagaimana setiap bait mengalir keluar dari hatinya:
* *"Ambil hidupku dan biarkan ia disucikan, Tuhan, bagi-Mu."*
* *"Ambil tanganku dan gerakkan dengan kasih-Mu."*
* *"Ambil suaraku dan biarkan aku bernyanyi hanya bagi Rajaku."*
* *"Ambil harta milikku..."*
Menariknya, Frances menuliskan lagu ini sebagai **doa penyerahan diri**. Ia tidak sekadar menulis lirik, ia sedang membuat janji kepada Tuhan untuk menggunakan setiap aspek hidupnyaβtangan, kaki, suara, bibir, harta, intelektual, dan kehendaknyaβhanya untuk kemuliaan Tuhan.
### 4. Komitmen yang Radikal
Salah satu aspek paling terkenal dari lagu ini adalah bait tentang harta benda (*"Take my silver and my gold, not a mite would I withhold"*).
Setelah menulis lagu ini, Frances benar-benar mempraktikkannya. Ia dikenal sangat murah hati; ia sering memberikan perhiasannya kepada organisasi misi dan menyumbangkan hampir seluruh uang yang ia peroleh dari royalti karya-karyanya untuk mendukung penginjilan. Ia tidak hanya bernyanyi, ia hidup sesuai dengan apa yang ia tulis.
### 5. Musik dan Warisan
Meskipun Frances sendiri adalah seorang musisi yang cakap, melodi yang paling populer untuk lagu ini saat ini dikenal dengan nama **"Hendon"**, yang disusun oleh **Henri Abraham CΓ©sar Malan**. Namun, Frances awalnya membayangkan lagu ini dinyanyikan dengan berbagai irama yang berbeda agar orang bisa benar-benar merenungkan setiap baris liriknya sebagai doa.
### Makna Mendalam
Lagu ini tetap abadi karena kejujurannya. Frances tidak meminta Tuhan memberkati hidupnya agar ia sukses secara duniawi, melainkan ia meminta Tuhan "mengambil" hidupnya untuk dipakai sesuai kehendak-Nya.
Bagi Frances Ridley Havergal, lagu ini adalah definisi dari **"kesucian"** (holiness). Baginya, menjadi kudus bukan berarti menjauhkan diri dari dunia, melainkan memberikan setiap aspek kehidupan kitaβbahkan hal-hal yang paling duniawi seperti waktu, suara, dan uangβuntuk dikuasai dan dipakai oleh Tuhan.
Frances meninggal dunia lima tahun setelah menulis lagu ini, pada usia 42 tahun. Namun, kata-kata yang ia tulis di malam yang dingin di tahun 1874 itu terus dinyanyikan oleh jutaan orang di seluruh dunia sebagai bentuk komitmen penyerahan diri total kepada Sang Pencipta.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu tersebut:
### 1. Latar Belakang Penulis
Frances Ridley Havergal (1836β1879) adalah seorang penyair, komposer, dan penulis lagu rohani asal Inggris yang sangat berbakat. Ia dikenal sebagai "Penyair Kesucian" karena seluruh hidupnya didedikasikan untuk melayani Tuhan. Ia adalah anak seorang pendeta Anglikan dan telah menunjukkan kecerdasan luar biasa sejak kecil (ia bisa membaca Alkitab pada usia tiga tahun).
### 2. Momen Inspirasi (Februari 1874)
Kisah penciptaan lagu ini terjadi saat Frances sedang mengunjungi sebuah rumah besar bernama *Areley House* di Worcestershire, Inggris. Saat itu, ia tinggal di sana selama lima hari.
Pada tanggal 4 Februari 1874, Frances mengalami pengalaman rohani yang sangat dalam. Ia merasa Tuhan memanggilnya untuk memberikan seluruh hidupnya secara totalβtanpa sisaβkepada-Nya. Ia merasa bahwa selama ini ada bagian-bagian hidupnya yang mungkin belum benar-benar ia serahkan sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.
### 3. Penulisan Lirik
Malam itu, di dalam kamarnya, Frances menuliskan puisi yang menjadi lirik lagu ini. Dalam catatannya sendiri, ia menuliskan bagaimana setiap bait mengalir keluar dari hatinya:
* *"Ambil hidupku dan biarkan ia disucikan, Tuhan, bagi-Mu."*
* *"Ambil tanganku dan gerakkan dengan kasih-Mu."*
* *"Ambil suaraku dan biarkan aku bernyanyi hanya bagi Rajaku."*
* *"Ambil harta milikku..."*
Menariknya, Frances menuliskan lagu ini sebagai **doa penyerahan diri**. Ia tidak sekadar menulis lirik, ia sedang membuat janji kepada Tuhan untuk menggunakan setiap aspek hidupnyaβtangan, kaki, suara, bibir, harta, intelektual, dan kehendaknyaβhanya untuk kemuliaan Tuhan.
### 4. Komitmen yang Radikal
Salah satu aspek paling terkenal dari lagu ini adalah bait tentang harta benda (*"Take my silver and my gold, not a mite would I withhold"*).
Setelah menulis lagu ini, Frances benar-benar mempraktikkannya. Ia dikenal sangat murah hati; ia sering memberikan perhiasannya kepada organisasi misi dan menyumbangkan hampir seluruh uang yang ia peroleh dari royalti karya-karyanya untuk mendukung penginjilan. Ia tidak hanya bernyanyi, ia hidup sesuai dengan apa yang ia tulis.
### 5. Musik dan Warisan
Meskipun Frances sendiri adalah seorang musisi yang cakap, melodi yang paling populer untuk lagu ini saat ini dikenal dengan nama **"Hendon"**, yang disusun oleh **Henri Abraham CΓ©sar Malan**. Namun, Frances awalnya membayangkan lagu ini dinyanyikan dengan berbagai irama yang berbeda agar orang bisa benar-benar merenungkan setiap baris liriknya sebagai doa.
### Makna Mendalam
Lagu ini tetap abadi karena kejujurannya. Frances tidak meminta Tuhan memberkati hidupnya agar ia sukses secara duniawi, melainkan ia meminta Tuhan "mengambil" hidupnya untuk dipakai sesuai kehendak-Nya.
Bagi Frances Ridley Havergal, lagu ini adalah definisi dari **"kesucian"** (holiness). Baginya, menjadi kudus bukan berarti menjauhkan diri dari dunia, melainkan memberikan setiap aspek kehidupan kitaβbahkan hal-hal yang paling duniawi seperti waktu, suara, dan uangβuntuk dikuasai dan dipakai oleh Tuhan.
Frances meninggal dunia lima tahun setelah menulis lagu ini, pada usia 42 tahun. Namun, kata-kata yang ia tulis di malam yang dingin di tahun 1874 itu terus dinyanyikan oleh jutaan orang di seluruh dunia sebagai bentuk komitmen penyerahan diri total kepada Sang Pencipta.
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Tema :
Hidup Mengikut Tuhan
176
Di Bawah Salib Yesus
177
'Ku Cari Suatu Panji
178
Ambil Dunia, B'riku Yesus
179
Lama 'Ku Enggan Mengikut Jalan Tuhan
180
Bukanlah 'Ku, Tetapi Hanya Kristus
181
Tuhan, Ambil Hidupku
182
'Ku Rindu MengiringMu
183
Dulu 'Ku Mencari
184
Engkau Milikku Abadi
185
Bintang Pandanganku
186
'Ku Cari Tuhan
187
Nikmat Dunia Menggodaku
188
Tiap Langkahku
189
Pegang Tanganku