KPJ
Sugeng Rawuh, Gusti
Nu zijt wellekome
247
Nomor
do = G
Nada Dasar
Kode
KPJ 247
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Tematik
Kidung Natal
Nada Dasar
do = G
Ketukan
2/4 ketuk
Metronom
90
Jumlah Bait
4 bait
Pencipta Lagu
Jerman
Pencipta Syair
Nyanyian Natal Jerman
Penerjemah
Panlit Kaj
Cross Ref.
KK 193, KJ 123, NR 30, MK 90, PS 460, KKb 130
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
1
Sugeng rawuh, Gusti, Ratuning swarga
kang tumedhan neng donya krana kula,
"Sugeng rawuh, Gusti saking daleme Rama,
rawuhe neng donya nunggil lan pra jalma"
Salam, salam!
2
Gusti ingkang dadya tuking sih-rahmat;
adreng panyuwun kula klayan urmat.
Kang ibu Maryam tansah manggya widada,
kang sampun dadya srana miyos Paduka.
Salam, salam!
3
Pra pangen gumregah, cahya nelahi,
nulya nampi pawartos saking swargi;
"Gusti Yesus wus miyos, aneng kandhang kewan
nulya ginedhong sumeleh ing palungan."
Salam, salam!
4
Pra pugangga rawuh, lintang kang nganthi
nedya angaturken pangabekti;
mas lan blendokmur sinaosaken mring Gusti
kanthi yakin, yeku Sang Jurubasuki.
Salam, salam!
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Kisah di Balik Lagu
Kisah di balik lagu **"Nu zijt wellekome"** (dalam bahasa Belanda) atau yang secara internasional dikenal dengan judul Jerman **"Sei uns willkommen"** adalah perjalanan panjang sebuah kidung Natal yang telah berusia lebih dari 700 tahun.
Berikut adalah detail kisah dan sejarah dibalik lagu tersebut:
### 1. Akar Sejarah: Abad Pertengahan
Lagu ini bukan sekadar lagu Natal biasa; ia adalah salah satu lagu Natal tertua yang masih dinyanyikan hingga saat ini. Asal-usulnya dapat dilacak hingga **abad ke-14 (sekitar tahun 1300-an)**.
Pada masa itu, lagu ini dikenal sebagai lagu rakyat dan liturgi yang dinyanyikan dalam bahasa Belanda Kuno (*Middelnederlands*). Judul aslinya adalah *"Nu zijt wellekome, Jesu, lieve Heer"*. Lagu ini muncul di tengah tradisi musik gerejawi Katolik Eropa Utara.
### 2. Makna "Sugeng Rawuh" (Selamat Datang)
Secara harfiah, *"Nu zijt wellekome"* berarti **"Kini Engkau disambut dengan selamat"** atau dalam bahasa Jawa sering diterjemahkan sebagai **"Sugeng Rawuh"**.
Makna teologis lagu ini sangat mendalam. Ia adalah sebuah undangan (inkarnasi) bagi Yesus Kristus untuk hadir di dunia, di hati umat manusia, dan di dalam gereja. Lagu ini merayakan momen di mana Tuhan yang Mahabesar menjadi bayi kecil yang lemah, dan umat manusia menyambut-Nya dengan sukacita dan kerendahan hati.
### 3. Transformasi ke Jerman ("Sei uns willkommen")
Karena popularitasnya di wilayah Belanda dan Jerman bagian utara, lagu ini kemudian diserap ke dalam tradisi Jerman. Dalam bahasa Jerman, lagu ini sering disebut **"Sei uns willkommen, Herre Christ"**.
* **Adaptasi Budaya:** Lagu ini tidak hanya sekadar diterjemahkan, tetapi mengalami penyesuaian melodi mengikuti gaya *Choral* (nyanyian jemaat) Jerman.
* **Peran Reformasi:** Setelah masa Reformasi Protestan, lagu ini tetap populer. Tokoh seperti Martin Luther dan penggubah musik gereja lainnya menghargai lagu ini karena pesannya yang sangat alkitabiah tentang kelahiran Yesus sebagai Juruselamat yang dinanti-nantikan.
### 4. Struktur dan Karakteristik Musik
Lagu ini memiliki struktur yang khas dari musik abad pertengahan:
* **Melodi:** Melodinya bersifat *modal* (bukan mayor/minor modern), yang memberikan kesan kuno, khusyuk, namun sangat meriah.
* **Kaitan dengan "In Dulci Jubilo":** Seringkali lagu ini dikaitkan dengan tradisi *In Dulci Jubilo*, yang juga merupakan lagu Natal kuno. Keduanya berbagi semangat yang sama, yaitu kegembiraan akan kelahiran Kristus.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Penting?
Ada beberapa alasan mengapa lagu "Sugeng Rawuh" ini bertahan melintasi waktu:
* **Kesederhanaan:** Liriknya langsung ke poin utama: menyambut bayi Yesus ke dalam dunia dan ke dalam hati yang percaya.
* **Sentuhan Emosional:** Lagu ini memberikan rasa "pulang" bagi mereka yang mendengarkannya. Di Eropa, lagu ini sering dinyanyikan saat prosesi penyalaan lilin Natal, menciptakan suasana yang intim dan kudus.
* **Penyatuan Tradisi:** Lagu ini menjadi jembatan antara tradisi musik rakyat (folk) dan musik gerejawi formal.
### 6. Versi di Indonesia
Di Indonesia, lagu ini sangat akrab di telinga umat Kristiani, terutama melalui buku nyanyian gerejawi. Judulnya pun sering disesuaikan dengan konteks budaya lokal, seperti penggunaan istilah "Sugeng Rawuh" dalam bahasa Jawa, yang secara filosofis sangat tepat menggambarkan kehangatan sambutan umat kepada Sang Raja Damai yang lahir di palungan.
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **"Penyambutan"**. Selama lebih dari 7 abad, jutaan orang telah menyanyikan lagu yang sama untuk menyambut kehadiran Tuhan. Ketika kita menyanyikan *"Nu zijt wellekome"* atau *"Sei uns willkommen"*, kita sebenarnya sedang menyambung tradisi spiritual yang telah dilakukan oleh generasi nenek moyang kita di Eropa sejak zaman sebelum Reformasi, sebuah pengakuan bahwa kelahiran Yesus adalah sebuah peristiwa "Sugeng Rawuh" bagi seluruh umat manusia.
Berikut adalah detail kisah dan sejarah dibalik lagu tersebut:
### 1. Akar Sejarah: Abad Pertengahan
Lagu ini bukan sekadar lagu Natal biasa; ia adalah salah satu lagu Natal tertua yang masih dinyanyikan hingga saat ini. Asal-usulnya dapat dilacak hingga **abad ke-14 (sekitar tahun 1300-an)**.
Pada masa itu, lagu ini dikenal sebagai lagu rakyat dan liturgi yang dinyanyikan dalam bahasa Belanda Kuno (*Middelnederlands*). Judul aslinya adalah *"Nu zijt wellekome, Jesu, lieve Heer"*. Lagu ini muncul di tengah tradisi musik gerejawi Katolik Eropa Utara.
### 2. Makna "Sugeng Rawuh" (Selamat Datang)
Secara harfiah, *"Nu zijt wellekome"* berarti **"Kini Engkau disambut dengan selamat"** atau dalam bahasa Jawa sering diterjemahkan sebagai **"Sugeng Rawuh"**.
Makna teologis lagu ini sangat mendalam. Ia adalah sebuah undangan (inkarnasi) bagi Yesus Kristus untuk hadir di dunia, di hati umat manusia, dan di dalam gereja. Lagu ini merayakan momen di mana Tuhan yang Mahabesar menjadi bayi kecil yang lemah, dan umat manusia menyambut-Nya dengan sukacita dan kerendahan hati.
### 3. Transformasi ke Jerman ("Sei uns willkommen")
Karena popularitasnya di wilayah Belanda dan Jerman bagian utara, lagu ini kemudian diserap ke dalam tradisi Jerman. Dalam bahasa Jerman, lagu ini sering disebut **"Sei uns willkommen, Herre Christ"**.
* **Adaptasi Budaya:** Lagu ini tidak hanya sekadar diterjemahkan, tetapi mengalami penyesuaian melodi mengikuti gaya *Choral* (nyanyian jemaat) Jerman.
* **Peran Reformasi:** Setelah masa Reformasi Protestan, lagu ini tetap populer. Tokoh seperti Martin Luther dan penggubah musik gereja lainnya menghargai lagu ini karena pesannya yang sangat alkitabiah tentang kelahiran Yesus sebagai Juruselamat yang dinanti-nantikan.
### 4. Struktur dan Karakteristik Musik
Lagu ini memiliki struktur yang khas dari musik abad pertengahan:
* **Melodi:** Melodinya bersifat *modal* (bukan mayor/minor modern), yang memberikan kesan kuno, khusyuk, namun sangat meriah.
* **Kaitan dengan "In Dulci Jubilo":** Seringkali lagu ini dikaitkan dengan tradisi *In Dulci Jubilo*, yang juga merupakan lagu Natal kuno. Keduanya berbagi semangat yang sama, yaitu kegembiraan akan kelahiran Kristus.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Penting?
Ada beberapa alasan mengapa lagu "Sugeng Rawuh" ini bertahan melintasi waktu:
* **Kesederhanaan:** Liriknya langsung ke poin utama: menyambut bayi Yesus ke dalam dunia dan ke dalam hati yang percaya.
* **Sentuhan Emosional:** Lagu ini memberikan rasa "pulang" bagi mereka yang mendengarkannya. Di Eropa, lagu ini sering dinyanyikan saat prosesi penyalaan lilin Natal, menciptakan suasana yang intim dan kudus.
* **Penyatuan Tradisi:** Lagu ini menjadi jembatan antara tradisi musik rakyat (folk) dan musik gerejawi formal.
### 6. Versi di Indonesia
Di Indonesia, lagu ini sangat akrab di telinga umat Kristiani, terutama melalui buku nyanyian gerejawi. Judulnya pun sering disesuaikan dengan konteks budaya lokal, seperti penggunaan istilah "Sugeng Rawuh" dalam bahasa Jawa, yang secara filosofis sangat tepat menggambarkan kehangatan sambutan umat kepada Sang Raja Damai yang lahir di palungan.
### Kesimpulan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **"Penyambutan"**. Selama lebih dari 7 abad, jutaan orang telah menyanyikan lagu yang sama untuk menyambut kehadiran Tuhan. Ketika kita menyanyikan *"Nu zijt wellekome"* atau *"Sei uns willkommen"*, kita sebenarnya sedang menyambung tradisi spiritual yang telah dilakukan oleh generasi nenek moyang kita di Eropa sejak zaman sebelum Reformasi, sebuah pengakuan bahwa kelahiran Yesus adalah sebuah peristiwa "Sugeng Rawuh" bagi seluruh umat manusia.
Narasi dari Wikipedia/AI — sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
KK 193, KJ 123, NR 30, MK 90, PS 460, KKb 130
123
S'lamat, S'lamat Datang
193
S'lamat, S'lamat Datang
130
Geura Halaturkeun Wilujeng Sumping
90
Slamat, s'lamat datang
30
S'lamat, S'lamat Datang, Yesus Tuhanku
460
Slamat slamat datang
Tema :
Kidung Natal
212
Aku Mbok Caritanana
213
Allah Ngesorken Srira
214
Aneng Pamakanan
215
Aneng Salumahing Bumi
216
Betlehem Ing Efrata
217
Dalu Santi
218
Dalu Suci
219
Daweg Ta Kanca Kula
220
Dinten Natal Dineten Adi
221
Duk Bumi Kinemulan Ratri
222
Dumeling Kapyarsa
223
Gumebyar!
224
Gusti, Rama Ing Swarga
225
Haleluya! Yesus Kristus
226
Hosiana, Gustiku
227
Iba Endah Cahyeng Ratri
228
Ing Betlehem Kang Tan Aji
229
Kabingahan Kang Sejati
230
Kabingahan Kang Sejati
231
Kadospundi, Dhuh Gusti
232
Kamulyakna
233
Kanca Agiyaka
234
Kaprungu Swara Gumyak
235
Lintang Wetan
236
Linuhurna! Gusti Pamarta
237
Nyawaku Muji Allah
238
Para Jalmi, Giranga
239
Pinuji Tansah
240
Para Pangon Kang Winartanan
241
Ratu Mulya
242
Rawuha Sang Imanuel
243
Sabumi Padha Suraka
244
Sajroning Pepeteng
245
Sang Pepadhang Sejati
246
Sang Ratu Adil Sejati
248
Tan Ana Cahya Mulya