KPKA
Pracaya Lan Pasraha
79
Nomor
Kode
KPKA 79
Buku
Kidung Pasamuwan Kristen Anyar
Tematik
Pengaken Pitados
Metronom
0
Cross Ref.
KPJ 133, NR 130
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
1
Pracaya lan pasraha mring Allah Ma kwasa,
Gunging prihatinira ginantosan begja,
yekti pilihing margi Pangeran mberkahi,
lan sira kaeraman wit gunging kadarman.
2
Lamun sira nggresula yekti tanpa guna,
ati kabidhung susah pepeteng sumrambah,
ngetunga gunging berkah sarta mukjijadnya,
dalah prakara lumrah dadya marginira.
3
Sapa bisa njajagi mring karsaning Gusti,
sira tan darbe kwasa nata umurira,
mung tansah mbudidaya sinartan ndedonga,
sumendhe mring Pangeran wah ngambah pepadhang.
4
Lamun nyangga momotan ingancam bebaya,
ngungsia mring Pangeran ywa semplah ing driya,
sira rineksa Gusti mrih datan bilai,
tan sande linuwaran wah sinung kraharjan.
5
Yen praharaning gesang silih nempuh tansah,
klayan takat linawan wah nenga mring Allah,
Gusti nunggil tan kendhat lan ngganjar sih rahmat,
temah manteb pracaya ing slami-laminya.
Partitur / Not
Klik untuk zoom
Partitur chord belum tersedia
Slide Lirik
5 slide
Kisah di Balik Lagu
Lagu **"Pracaya Lan Pasrah"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Percaya dan Berserahlah"*) adalah gubahan dari himne Jerman yang sangat terkenal, **"Befiehl du deine Wege"**.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat dua sosok utama: **Paul Gerhardt** (penulis syair) dan **Johannes Gijsbertus Bastiaans** (komponis melodi yang sering dikaitkan dengan tradisi lagu ini).
Berikut adalah detail kisahnya:
### 1. Latar Belakang Penulis Syair: Paul Gerhardt (1607β1676)
Paul Gerhardt adalah seorang pendeta Lutheran di Jerman yang hidup di masa yang sangat kelam, yaitu **Perang Tiga Puluh Tahun** (1618β1648). Masa ini adalah salah satu periode paling destruktif dalam sejarah Eropa, yang menyebabkan kelaparan, wabah penyakit, dan kehancuran moral.
**Kisah di balik syairnya:**
Pada tahun 1653, Gerhardt menulis himne ini. Konon, ia menulisnya dalam masa kesedihan yang mendalam. Ia kehilangan banyak anggota keluarganya, dipecat dari pekerjaannya karena alasan teologis, dan hidup dalam pengasingan.
Syair "Befiehl du deine Wege" (Serahkanlah jalan hidupmu) didasarkan pada **Mazmur 37:5**: *"Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak."*
Gerhardt ingin menyampaikan pesan bahwa di tengah badai kehidupan yang tampak tidak terkendali, Tuhan tetap memegang kendali. Stanza pertama lagu ini secara harfiah berbunyi: *"Serahkanlah jalan hidupmu dan segala yang membebanimu kepada kesetiaan kasih Allah yang bertahta di surga."*
### 2. Musik dan Johannes Gijsbertus Bastiaans
Melodi yang paling identik dengan syair Gerhardt ini dikenal dengan nama *Herzlich tut mich verlangen* (sering dikaitkan dengan Hans Leo Hassler). Namun, peran **Johannes Gijsbertus Bastiaans** (1812β1875), seorang organis dan komponis asal Belanda, sangat krusial dalam mempopulerkan dan mengaransemen lagu ini dalam tradisi Protestan di wilayah Eropa, termasuk pengaruhnya hingga ke gereja-gereja di Indonesia.
Bastiaans adalah tokoh musik gereja yang sangat dihormati. Ia banyak melakukan harmonisasi ulang atas himne-himne klasik (seperti karya Bach dan Gerhardt) agar dapat dinyanyikan dengan lebih khidmat di gereja-gereja reformasi. Melalui aransemennya, lagu ini mendapatkan karakter "pasrah" yang mendalamβnada yang tenang, lambat, dan kontemplatif.
### 3. Makna dalam Budaya Indonesia: "Pracaya Lan Pasrah"
Dalam bahasa Jawa, lagu ini menjadi sangat ikonik. Kata *"Pracaya"* (Percaya) dan *"Pasrah"* (Berserah) menangkap esensi teologi Paul Gerhardt secara sempurna:
* **Pracaya (Percaya):** Bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik, meskipun mata manusia tidak bisa melihatnya.
* **Pasrah (Berserah):** Melepaskan kendali atas ego dan kekhawatiran diri sendiri ke dalam tangan Tuhan.
Bagi masyarakat Kristen di Jawa, lagu ini sering dinyanyikan saat masa-masa duka (seperti pemakaman) atau saat jemaat berada dalam titik terendah dalam hidup mereka. Musik yang dibuat oleh tokoh seperti Bastiaans memberikan ruang bagi jemaat untuk tidak hanya menyanyi, tetapi melakukan "kontemplasi" atau perenungan batin.
### Ringkasan Pesan Lagu
Kisah lagu ini adalah kisah tentang **kemenangan iman atas ketakutan**. Paul Gerhardt membuktikan bahwa meskipun seseorang kehilangan segalanyaβharta, keluarga, dan posisiβia tetap memiliki Allah yang tidak akan pernah meninggalkan ciptaan-Nya.
Lagu ini menjadi pengingat abadi bahwa:
1. **Dunia ini berubah,** tetapi Tuhan tidak.
2. **Kekhawatiran adalah beban yang sia-sia,** jika kita sudah menyerahkannya kepada Yang Maha Kuasa.
3. **Kesabaran dalam penderitaan** adalah bentuk tertinggi dari ketaatan seorang beriman.
Saat Anda mendengar atau menyanyikan "Pracaya Lan Pasrah", Anda sebenarnya sedang melantunkan doa seorang pria yang hidup di tengah reruntuhan perang 400 tahun lalu, yang memilih untuk tetap percaya bahwa Tuhan adalah nahkoda di tengah badai hidupnya.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat dua sosok utama: **Paul Gerhardt** (penulis syair) dan **Johannes Gijsbertus Bastiaans** (komponis melodi yang sering dikaitkan dengan tradisi lagu ini).
Berikut adalah detail kisahnya:
### 1. Latar Belakang Penulis Syair: Paul Gerhardt (1607β1676)
Paul Gerhardt adalah seorang pendeta Lutheran di Jerman yang hidup di masa yang sangat kelam, yaitu **Perang Tiga Puluh Tahun** (1618β1648). Masa ini adalah salah satu periode paling destruktif dalam sejarah Eropa, yang menyebabkan kelaparan, wabah penyakit, dan kehancuran moral.
**Kisah di balik syairnya:**
Pada tahun 1653, Gerhardt menulis himne ini. Konon, ia menulisnya dalam masa kesedihan yang mendalam. Ia kehilangan banyak anggota keluarganya, dipecat dari pekerjaannya karena alasan teologis, dan hidup dalam pengasingan.
Syair "Befiehl du deine Wege" (Serahkanlah jalan hidupmu) didasarkan pada **Mazmur 37:5**: *"Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak."*
Gerhardt ingin menyampaikan pesan bahwa di tengah badai kehidupan yang tampak tidak terkendali, Tuhan tetap memegang kendali. Stanza pertama lagu ini secara harfiah berbunyi: *"Serahkanlah jalan hidupmu dan segala yang membebanimu kepada kesetiaan kasih Allah yang bertahta di surga."*
### 2. Musik dan Johannes Gijsbertus Bastiaans
Melodi yang paling identik dengan syair Gerhardt ini dikenal dengan nama *Herzlich tut mich verlangen* (sering dikaitkan dengan Hans Leo Hassler). Namun, peran **Johannes Gijsbertus Bastiaans** (1812β1875), seorang organis dan komponis asal Belanda, sangat krusial dalam mempopulerkan dan mengaransemen lagu ini dalam tradisi Protestan di wilayah Eropa, termasuk pengaruhnya hingga ke gereja-gereja di Indonesia.
Bastiaans adalah tokoh musik gereja yang sangat dihormati. Ia banyak melakukan harmonisasi ulang atas himne-himne klasik (seperti karya Bach dan Gerhardt) agar dapat dinyanyikan dengan lebih khidmat di gereja-gereja reformasi. Melalui aransemennya, lagu ini mendapatkan karakter "pasrah" yang mendalamβnada yang tenang, lambat, dan kontemplatif.
### 3. Makna dalam Budaya Indonesia: "Pracaya Lan Pasrah"
Dalam bahasa Jawa, lagu ini menjadi sangat ikonik. Kata *"Pracaya"* (Percaya) dan *"Pasrah"* (Berserah) menangkap esensi teologi Paul Gerhardt secara sempurna:
* **Pracaya (Percaya):** Bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik, meskipun mata manusia tidak bisa melihatnya.
* **Pasrah (Berserah):** Melepaskan kendali atas ego dan kekhawatiran diri sendiri ke dalam tangan Tuhan.
Bagi masyarakat Kristen di Jawa, lagu ini sering dinyanyikan saat masa-masa duka (seperti pemakaman) atau saat jemaat berada dalam titik terendah dalam hidup mereka. Musik yang dibuat oleh tokoh seperti Bastiaans memberikan ruang bagi jemaat untuk tidak hanya menyanyi, tetapi melakukan "kontemplasi" atau perenungan batin.
### Ringkasan Pesan Lagu
Kisah lagu ini adalah kisah tentang **kemenangan iman atas ketakutan**. Paul Gerhardt membuktikan bahwa meskipun seseorang kehilangan segalanyaβharta, keluarga, dan posisiβia tetap memiliki Allah yang tidak akan pernah meninggalkan ciptaan-Nya.
Lagu ini menjadi pengingat abadi bahwa:
1. **Dunia ini berubah,** tetapi Tuhan tidak.
2. **Kekhawatiran adalah beban yang sia-sia,** jika kita sudah menyerahkannya kepada Yang Maha Kuasa.
3. **Kesabaran dalam penderitaan** adalah bentuk tertinggi dari ketaatan seorang beriman.
Saat Anda mendengar atau menyanyikan "Pracaya Lan Pasrah", Anda sebenarnya sedang melantunkan doa seorang pria yang hidup di tengah reruntuhan perang 400 tahun lalu, yang memilih untuk tetap percaya bahwa Tuhan adalah nahkoda di tengah badai hidupnya.
Narasi dari Wikipedia/AI β sebagian informasi mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.
Cross Reference
Tema :
Pengaken Pitados
56
Karahayone Wong Mursid
57
Kang Karoban Ing Begja
58
Rineksa Ing Allah Nadyan Sinatru Tyang Duraka
59
Nyuwun Luwar Sing Karupekan
60
Allah Pangen Kula
61
Allah Yeku Pangen Satuhu
62
Karahayoning Tyang Mursid
63
Berkahing Allah
64
Pasrah Mring Gusti
65
Yesus Roti Panguripan
66
Masrahaken Gesang
67
Aneng Patunggilaning Gusti
68
Iba Adi Tuwin Endahipun
69
Kasetyaning Allah
70
Lumadi Ing Gusti
71
Manggul Salib
72
Temen Ndherek Gusti
73
Mareka Mring Gusti
74
Pracaya Mring Gusti
75
Gusti Nimbali
76
Umareka, Umareka
77
Ing Paprentahaning Allah
78
Tinimbalan Dening Gusti
80
Kapyarsi Gusti Nimbali
81
Ndherek Gusti
82
Tekading Manah Kula
83
Pasrah Dhateng Gusti
84
Nyuwun Tuntunanipun Gusti
85
Kabegjan Sejati
86
Andherek Gusti
87
Sumendhe Ing Gusti
88
Sakehing Sumelangmu Pasrahna Marang Aku
89
Pasrah
90
Pasraha
91
Praboting Perang Rohani
92
Pamujinipun Para Utusan
93
Pangatag Ngabarake Injil
94
Nyuwun Gumelaripun Kratoning Swarga
95
Kratoning Swarga
96
Lamun Dudu Yehuwah
97
Tansah Samekta
98
Panenipun Jembar
99
Panyuwun Gumelaring Kraton
100
Diprayitna
101
Perang Rohani
102
Allah Asih Mring Jagad
103
Dhamparing Sih Rahmat
104
Kraharjaning Tumitah
105
Gesang Tresna-Tinresnan
106
Kula Nedya Kadya Gusti
107
Gusti Mugi Tansah Nuntun
108
Gusti Mugi Nunggil Mring Kula
109
Katemtuaning Pracaya
110
Namung Karsa Paduka
111
Gusti Nuntuna Kawula
112
Mugi Mberkahi Kula
113
Pandonga Enjing
114
Aja Semaya
115
Nyuwun Ayeming Manah
116
Pasrah Sumarah Mring Gusti
117
Gusti Pangen Utami
118
Ingsun Yehuwah Allahira
119
Angger Kula Sumerep
120
Kumandel Mring Allah
121
Kinanthi Ing Gusti
122
Dipanggah
123
Gusti Pangungsenmu
124
Samekta
125
Pasrah Sumaraha
126
Ngrangkul Salib
127
Kula Tyang Pracaya
128
Kabegjan Kang Sejati
129
Tansah Bingah
130
Allah Dados Pepadhang
131
Ayem Wonten Ing Gusti
132
Kabegjaning Tiyang Kristen
133
Rumentahing Palimirma
134
Aja Adigang, Adigung, Adiguna
135
Kula Sumarah Mring Allah
136
Pangandel Dhumateng Allah
137
Kang Langgeng Sihe Allah
138
Pangandel
139
Mugi Gusti Angutus Utusan
140
Sang Kristus Tameng Santosa
141
Gesang Dados Kidung
142
Mung Kristus Juru Basuki
143
Mung Tansah Pasrah Mring Gusti
144
Margi Dhateng Swarga
145
Nunggil Kaliyan Gusti
146
Gusti Yesus Pamarta
147
Pangungsen Kula
148
Nyawisi Papan Mring Gusti
149
Gusti Nuntun
150
Kumandela, Pracayaa
151
Mung Allah Maha Kawasa
152
Yesus Sang Pamarta
153
Gusti Yesus Kristus
154
Allah Pangayomanmu
155
Paseksi Sayekti
156
Timbalan Dadya Duta Sembada
157
Nyuwun Kalanting Ing Gusti
158
Asmanya Makwasa
159
Sang Kristus Maasih
160
Kraton Swarga
161
Tyang Kang Pracaya
162
Dhuh Gusti Pepadhang Yekti
163
Pitobat
164
Agunging Sih Rahmat
165
Jatining Katresnan
166
Ora Et Labora
167
Panuntuning Gusti
168
Ndedonga Lan Makarya
169
Sumarah Mring Allah
170
Gusti Mugi Nuntun Kawula
171
Utusaning Gusti
172
Tansah Padha Bebungaha
173
Korban Sejati
174
Nulada Sang Pamarta
175
Tiyang Rahayu
176
Kang Pinunjul Katresnan
177
Gusti Yesus Ratu Adil
178
Gusti Pepadhanging Jagad
179
Panarima